Sabtu, 27 November 2010

HUKUM PERBURUHAN

Perburuhan adalah suatu kejadian dimana seseorang yg disebut buruh/pekerja/tenaga kerja bekerja pada orang lain yg disebut majikan dan mendapatkan upah dari majikan tsb dari hasil kerjanya itu. Definisi hukum perburuhan adalah himpunan peraturan, baik tertulis maupun tidak, yang berkenaan dengan suatu kejadian di mana seseorang bekerja pada orang lain dengan menerima upah.

Hak dan Kewajiban Pengusaha/Perusahaan

I. HAK PENGUSAHA

1. Berhak sepenuhnya atas hasil kerja pekerja.

2. Berhak atas ditaatinya aturan kerja oleh pekerja, termasuk pemberian sanksi

3. Berhak atas perlakuan yang hormat dari pekerja

4. Berhak melaksanakan tata tertib kerja yang telah dibuat oleh pengusaha

II. KEWAJIBAN PENGUSAHA

1. Memberikan ijin kepada buruh untuk beristirahat, menjalankan kewajiban menurut agamanya

2. Dilarang memperkerjakan buruh lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu, kecuali ada ijin penyimpangan

3. Tidak boleh mengadakan diskriminasi upah laki/laki dan perempuan

4. Bagi perusahaan yang memperkerjakan 25 orang buruh atau lebih wajib membuat peraturan perusahaan

5. Wajib membayar upah pekerja pada saat istirahat / libur pada hari libur resmi

6. Wajib memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada pekerja yang telah mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus menerus atau lebih

7. Wajib mengikuti sertakan dalam program Jamsostek.


Buruh bekerja pada waktu-waktu tertentu dan berhak mendapatkan waktu istirahat,libur maupun cuti. Hal ini sudah dicantumkan dalam undang-undang no 13 tahun 2003 tentang perburuhan. Buruh bekerja maksimal selama 7 jam/hari atau 40 jam/minggu (dihitung 6 hari kerja dalam 1 minggu). Namun apabila dalam 1 minggu hanya 5 hari kerja maka dalam 1 hari maksimal waktu kerja buruh dapat mencapai 8 jam.
Buruh atau pekerja dapat dipekerjakan melebihi waktu-waktu seperti ketentuan di atas atau biasa disebut lembur dengan menerima upah lembur, namun harus memenuhi salah satu dari persyaratan di bawah ini:

  • pekerja yang bersangkutan menyetujui untuk bekerja melebihi waktu yg ditentukan,
  • lembur maksimal 3 jam dalam 4 hari / 14 jam dalam 1 minggu.

Majikan/pengusaha wajib memberikan waktu istirahat/cuti pada pekerjanya. seorang pekerja dapat beristirahat selama setengah jam jika ia telah bekerja selama 4 jam,selain itu ada juga istirahat mingguan,cuti tahunan dan istirahat panjang.


Hukum Perikatan Dalam Jasa Konstruksi

Undang-Undang Jasa Konstruksi (UUJK) No.18 Tahun 1999 menjelaskan definisi kontrak kerja konstruksi adalah keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi, dan untuk mendapatkan hubungan hukum yang sah dapat dilihat di KUH Perdata pasal 1320, bahwa setiap perjanjian harus memenuhi persyaratan sebagai berikut;
• Pertama, sepakat mereka mengikatkan diri,
• Kedua, kecakapan untuk membuat suatu perikatan,
• Ketiga, oleh karena suatu hal tertentu,
• Keempat, suatu sebab yang halal.
Apabila hubungan hukum tersebut dapat dinyatakan sah sebagaimana KUH Perdata pasal 1320 diatas maka pasal 1338 KUH Perdata menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagaimana Undang- undang bagi mereka yang membuatnya.
Dari Penjelasan ini berarti bahwa dimensi hukum dalam kontrak kerja konstuksi adalah dimensi hukum perdata, bukan hukum pidana dan dalam konteks ini, kontrak kerja konstruksi tunduk pada Pasal 1320 KUH Perdata. Sehingga kedudukan hukum bagi pihak-pihak yang terdapat dalam kontrak adalah kedudukan sebagai pihak-pihak dalam hukum privat.

Perikatan artinya hal yang mengikat orang yang satu terhadap orang yang lain.
Hal yang mengikat tersebut dapat berupa perbuatan misalnya jual beli barang
Dapat berupa peristiwa ,misalnya perkawinan dan dapat berupa keadaan,misalnya bertetangga. Oleh karena itu dibentuk undang-undang oleh masyarakat yang diakui dan diberi akibat hukum.
Dan dalam pengertiannya perikatan dapat terjadi jika sudah melalui perjanjian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan menimbulkan suatu hak dan kewajiban. Dan sumber hukum perikatan adalah Perjanjian dan Undang - Undang.
Dasar hukum perikatan berdasarkan KUH Perdata terdapat tiga sumber yaitu :
1. Perikatan yang timbul dari persetujuan.
2. Perikatan yang timbul dari undang – undang
3. Perikatan terjadi bukan perjanjian

Agar pihak pemberi tugas dan pelaksana tugas tidak ada yang merasa dirugikan dan puas akan pekerjaan tsb maka perlu dibuat suatu kontrak kerja sehingga masing-masing pihak dapat menyadari,memahami dan melaksanakan kewajibannya serta mengetahui apa-apa saja yang menjadi haknya dan apabila salah satu pihak merasa dirugikan karena terdapat hal - hal yang tidak dilaksanakan pihak lainnya,yang sudah tercantum dalam kontrak kerja, maka pihak tersebut dapat memberikan sanksi kepada pihak lainnya yang telah disepakati bersama, dapat pula menuntutnya ke pengadilan.

Kontrak kerja ada dalam banyak bidang pekerjaan namun saya akan membahas kontrak kerja antara pemborong dengan owner.Pemborong atau kontraktor adalah pihak yang melaksanakan suatu proses pembangunan sedangkan owner adalah pemberi tugas atau pemilik proyek.

Di awal kontrak dijelaskan mengenai data dari kedua belah pihak seperti nama,alamat,nomor telepon dan jabatan dan ditetapkan siapa yang akan menjadi pihak pertama dan siapa yang akan menjadi pihak kedua karena dalam isi kontrak kerja hanya akan disebutkan phak pertama dan "pihak kedua" tanpa menyebutkan nama dari si pemborong maupun si owner. selain itu dicantumkan juga bahwa kedua belah pihak telah menyetujui untuk mengadakan suatu ikatan kontrak.


Contoh :
KONTRAK KARJA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UGAL-UGALAN SIRKUIT

Nomor : 21/051990/2010
Jakarta,27 November 2010


Pada hari ini Senin tanggal 27 November 2010 kami yang bertandatangan di bawah ini :
Nama : Rizkyan Maulanang
Alamat : Jl.Jend Soeprapto, Purwokerto
Telepon : 0821051990
Jabatan :Manager PT.Maulanang
Dalam hal ini bertindak sebagai pihak pertama.

Dengan

Nama : Bella Rettob
Alamat :Jl. Lembah No.17, Maluku Tenggara
Telepon :08578899787
Jabatan :Manager Pembangunan
Dalam hal ini bertindak sebagai pihak kedua.

Dengan ini kedua belah pihak telah sepakat mengadakan kontrak kerja pelaksanaan pembangunan UGAL-UGALAN SIRKUIT milik PT.Maulanang yang berada di Jl.Jend Soeprapto, Purwokerto. Pihak kedua bersedia untuk melaksanakan pekerjaan pembangunan yang pembiayaannya ditanggung oleh pihak pertama dengan ketentuan yang tercantum dalam pasal-pasal berikut ini :
Adapun Perjanjian-perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak :
1.
2.
3.
Disamping itu ada sanksi yang diberikan bila terjadi pelanggaran dalam kontrak kerja:
1.
2.
3.

Pihak Pertama AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA Pihak Kedua

Rizkyan Maulanang AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA Bella Rettob
Saksi

Niy Indah Cahyani

Senin, 15 November 2010

Pengaruh Tugas Seorang Arsitek Terhadap Lingkungan

Selain ekonomi, masalah lingkungan di Indonesia juga merisaukan. Tapi sementara di satu sisi pembangunan tidak bisa berhenti. Akan tetapi pembangunan tersebut banyak yang tidak memperhatikan masalah lingkungan. Akibatnya lingkungan rusak karena pemanasan global, bencana alam dimana-mana dan banyak lagi.

Maka pembangunan proyek di Indonesia harus harus ditata dengan baik seperti pengembangan di mana unsur lingkungan hidup merupakan tolak ukur utama. Perlunya konsep makro dan mikro yang kuat dalam mengarahkan pembangunan di Indonesia agar berjalan dengan baik.untuk itu,seorang arsitek jangan melupakan bidang keilmuan dan pengetahuan yang berasal dari lingkungan setempat. Justru seharusnya melestarikan lingkungan yang sudah ada dengan mengembbangkan ilmunya.

Contohnya seperti kebijakan yang diterapkan di negara lain seperti Jepang. Di negeri Sakura itu, setiap gedung berlantai lima atau lebih harus menggunakan green roof.

Dampak baik terhadap lingkungan:
Seorang arsitek yang peduli akan lingkungan terhadap desain bangunannya maka akan berdampak sosial seperti:
• Dengan desain bangunan yang ramah lingkungan dan tetap menjaga kelestarian alam. Agar masa depan ekosistem tetap terjaga.
• Memberikan sebuah solisi pemecahan masalah pada tata letak bangunan atau kota. Sebagai pengkritik sosial akan banguan yang tidak ramah lingkungan.
• Denagn memaksimalkan fungsi bangunan dengan meminimalkan energy yang digunakan. Sehingga tetap estetis tetapi ramah lingkungan dan dapat menjadi contoh untuk masyarakat luas.

Contoh studi kasusnya ialah pada bangunan The Green School (http:/maulana-kingkong.blogspot.com/2010/10/green-school.html). Sekolah tersebut mempunyai kelebiah sebagai bangunan yang ramah lingkungan karena:














Sekolah ini merupakan satu – satu-nya sekolah di dunia yang bangunannya terbuat dari batang bamboo yang ramah lingkungan.Sekolah ini didukung oleh sejumlah sumber energi alternatif, Pendingin udaranya tidak lagi memakai Ac, melainkan kincir angin melalui terowongan bawah tanah..termasuk bambu air panas serbuk gergaji dan sistem memasak, sebuah powered vortex generator-hydro dan panel surya. bangunan Kampus termasuk ruang kelas, pusat kebugaran, ruang perakitan, perumahan fakultas, kantor, kafe dan kamar mandi. Tenaga listiknya menggunakan bio-gas yang terbuat dari kotoran hewan untuk menyalakan kompor. Tambak udang tempat budidaya, sekaligus peternakan sapi.Lokal bambu , ditumbuhkan dengan metode yang berkelanjutan, digunakan dalam cara-cara inovatif dan eksperimental yang menunjukkan kemungkinan arsitektur. Hasilnya adalah sebuah komunitas hijau holistik dengan mandat pendidikan yang kuat yang bertujuan untuk menginspirasi siswanya untuk menjadi lebih penasaran, lebih terlibat dan lebih bergairah tentang lingkungan dan bumi ini.

Dampak buruk terhadap lingkungan:
Perumahan adalah salah satu contoh dampak buruk, Pembangunan perumahan semakin terlihat di beberapa tempat, tetapi mereka kurang memperhatikan lingkungannya.. Semakin menurunnya kondisi lingkungan luar, memberikan pengaruh pada menurunnya kualitas hidup. Untuk itu dirasa perlu adanya upaya perbaikan untuk meminimalisasi efek-efek negatif baik pada manusia maupun pada lingkungan.

Salah satu contoh studi kasus ialah pada jebolnya tanggul Situ Gintung karena banyaknya curah hujan yang terjadi dan perkiraan para peneliti akan maraknya pembangunan tempat wisata, bangunan komersial,dan perumahan penduduk yang padat dan tidak tertata lainnya disekitar tanggul Situ Gintung. Karena yang seharusnya kawasan tersebut menjadi tanah resapan bagi tanggul bukan kawasan pemukiman atau lain sebagainya.

















Salah satu contoh studi kasus lainnya ialah banjir. Warga jakarta khususnya sudah tidak asing lagi akan bencana yang satu ini. Salah satu penyebab banjir adalah kurangnya derah resapan atau ruang terbuka hijau yang ada di Jakarta. Lahan ruang terbuka hijau jauh lebih sedikit dibandingkan kawasan komersil yang jumlahnya ratusan. Sistem drainase yang kurang baik juga memperparah keadaan ini. Belum lagi bangunan liar yang berada dibantaran sungai, itu semua sangat masuk akal bila Jakarta terlihat seperti kota yang tenggelam saat musim hujan.


















Kesimpulan:
Di satu sisi, perancangan yang belum memikirkan aspek berkelanjutan, dimana hanya memikirkan bagaimana kita bisa hidup nyaman hari ini tanpa memikirkan bagaimana kita hidup nyaman untuk seterusnya. Untuk itu dirasa perlu adanya upaya perbaikan untuk meminimalisasi efek-efek negatif baik pada manusia maupun pada lingkungan. Perancangan interior dan arsitektur yang baik dapat menjadi bagian dari upaya untuk turut serta dalam penyelamatan dan penyehatan lingkungan. Interior berorientasi ekologis dapat merupakan salah satu jawaban untuk dapat memberikan kontribusi baik bagi penghuni maupun lingkungan.
Mengenai konsep bangunan khususnya di Indonesia yang beriklim tropis, sebenarnya kita telah memiliki warisan dan kearifan lokal dari segi arsitektur tradisionalnya, tetapi model pembangunan rumah dan fasilitas bangunan lainnya cenderung mengabaikan kondisi iklim kita dan terlalu mengikuti trend bergaya tertentu. Sehingga bangunan harus “terpaksa” berdiri di tengah kondisi iklim kita. Hal ini menyebabkan ketidak nyamanan penghuni yang beraktifitas dalam ruang.
Kondisi iklim tropis sebenarnya sangat menunjang kehidupan kita yang beraktifitas di dalam ruang. Dengan pemanfaatan kondisi iklim seperti arah dan intensitas sinar matahari, kelembaban udara, suhu, arah dan kecepatan angin, dan curah hujan, sebenarnya dapat dirancang bentuk bangunan yang sedemikian rupa, dan penerapan bahan – bahan alami, sehingga terwujudlah rumah yang ramah lingkungan. Penerapan ini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh penghuni rumah tetapi juga oleh orang lain dan lingkungannya. Dan tidak hanya diperhitungkan untuk kepentingan sesaat, tetapi untuk kepentingan masa depan, dan juga dilihat dari sisi pemanfaatan energi untuk kepentingan sustainable atau berkelanjutan.
Desain bangunan (green building) hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan (green product).Bangunan dirancang dengan massa ruang, keterbukaan ruang, dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar, ventilasi bersilangan, dan void berimbang yang secara klimatik tropis berfungsi untuk sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alami merata ke seluruh ruangan agar hemat energi.
Dengan pemikiran seperti diatas, merupakan langkah awal upaya mitigasi dari sisi perancangan, dan berupaya terus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah ekstrim tersebut.

Minggu, 31 Oktober 2010

Peraturan yang Terkait dengan Pembangunan

^KEPRES NO 63 TAHUN 2003 tentang badan kebijaksanaan dan pengendalian pembangunan perumahan dan permukiman nasional.

^PP NO 80 TAHUN 1995 tentang kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun yang berdiri sendiri

^UU NO 28 TAHUN 2002 tentang bangunan gedung

^PP NO 36 TAHUN 2005 tentang peraturan pelaksanaan UU NO 28 TAHUN 2002

itulah beberapa peraturan-peraturan yang terkait dengan pembangunan yang saya ketahui.

Sabtu, 30 Oktober 2010

UU NO 26 TAHUN 2007

Undang2 ini terdiri dari 80 pasal dan terbagi dalam 13 bab.
Berikut adalah penjabaran singkat mengenai undang2 tersebut:
^bab 1,ketentuan umum,(pasal 1)
^bab 2,asas dan tujuan (pasal 2 dan 3)
^bab 3, klasifikasi penataan ruang (Pasal 4-6)
^bab 4,tugas dan wewenang (pasal 7-11)
^bab 5,pengaturan dan pembinaan penataan ruang (pasal 12-13)
^bab 6,pelaksanaan penataan ruang (pasal 14-54)
^bab 7,pengawasan penataan ruang (Pasal 55-59)
^bab 8, hak,kewajiban dan peran masyarakat (pasal 60-66)
^bab 9,penyelesaian sengketa (pasal 67)
^bab 10,penyidikan (pasal 68)
^bab 11,ketentuan pidana (pasal 69-75)
^bab 12,ketentuan peralihan (pasal 76-77)
^bab 13,ketentuan penutup (pasal 78-80)

Maka tujuan utama dibuatnya undang-undang no.26 tahun 2007 agar wilayah kedaulatan RI yang merupakan ruang yaitu meliputi darat,laut dan udara. harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan kualitasnya sehingga dapat menyejahterakan rakyat Indonesia, selain itu juga karena kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana dan perkembangan situasi dan kondisi nasional dan internasional memandang perlu penegakan asas-asas berlandaskan pancasila. Jadi dibualah UU mengenai penataan ruang dan dibuatlah UU NO 26 TAHUN 2007 tentang penataan ruang.

UU NO 4 TAHUN 1992

Undang-undang ini terdiri dari 42 pasal yang terbagi dalam 8 bab. Berikut ini adalah penjelasan singkat undang-undang tersebut tiap bab-nya:
^Bab kesatu,KETENTUAN UMUM pasal 1dan 2,menjelaskan mengenai rumah,perumahan,permukiman dsb dan tentang lingkup peraturan.
^Bab kedua,ASAS DAN TUJUAN pasal 3 dan 4,menjelaskan tentang tujuan penataan perumahan dan permukiman.
^Bab ketiga,PERUMAHAN pasal 5 sampai 17,menjelaskan aturan-aturan tentang hak dan kewajiban warga negara dalam pembangunan perumahan.
^Bab keempat,PERMUKIMAN pasal 18 sampai 28,menjelaskan bahwa rencana tata ruang ditetapkan oleh pemda,pemerintah memberi bimbingan dan bantuan kepada masyarakat dalam pengawasan bangunan untuk meningkatkan kualitas permukiman.
^Bab kelima,PERAN SERTA MASYARAKAT pasal 29,berisi tentang hak dan kewajiban yg sama bagi tiap warga negara dalam pembangunan.
^Bab keenam,PEMBINAAN pasal 30 sampai 35,menjelaskan bahwa pemerintah melakukan pembinaan agar masyarakat menggunakan teknologi tepat guna.
^Bab ketujuh,KETENTUAN PIDANA pasal 36 sampai 37,berisi tentang sanksi yang diterima bila melakukan pelanggaran terhadap peraturan-peraturan di atas.
^Bab kedelapan,KETENYUAN LAIN-LAIN pasal 38 sampai 40,mengatur tentang pencabutan badan usaha yang melakukan pelanggaran atas pasal-pasal di atas.

Undang-undang ini Bertujuan untuk mewujudkan permukiman yang layak,sehat,aman dan serasi serta berlandaskan pancasila. Dan peningkatan dan pengembangan pembangunan perumahan seperti itu perlu diupayakan. Maka dari iru UU NO 4 TAHUN 1992 dibuat untuk mengatur tentang perumahan dan permukiman.

HUKUM PRANATA PEMBANGUNAN

dapat diartikan seperti:
Hukum adalah sistem terpenting dalam pelaksanaan kekuasaan dalam suatu kelembagaan.suatu negara harus mempunyai hukum Karena manusia itu adalah makhluk yang komplek yang memiliki banyak keinginan, kebutuhan, kepentingan, dan sebagainya. Semua punya sesuatu yang berbeda, maka untuk menyatukan itu harus ada hukum yang mengatur semuanya agar tidak terjadi benturan, Sehingga semua bisa hidup lebih teratur dan tertib.
Sejalan dengan pesatnya tekhnologi, permasalahan pembangunanpun semakin banyak. Untuk itu permasalahan anatara fungsi yang satu dengan fungsi yang satu semakin tidak jelas dan timbulah masalah pranata.

Pranata adalah norma atau aturan khusus mengenai suatu aktifitas tertentu dalam masyarakat. Pranata dapat berbentuk tertulis maupun tidak tertulis,sanksinya adalah sanksi moral/sosial. Pranata bersifat mengikat danrelatif lama serta memiliki ciri-ciri tertentu yaitu :simbol,nilai,aturan main,tujuan ,kelengkapan dan umur.Pranata secara umum adalah interaksi antar individu atau kelompok dalam kerangka peningkatan kesejahteraan atau kualitas hidup, bahwa terjadi antar si pelaku pembangunan untuk menghasilkan fisik ruang yang berkualitas. Dan pranata di bidang arsitektur dapat dikaji melalui pendekatan sistem, karena melibatkan banyak pihak dengan fungsi berbeda dan menciptakan sesuatu yang berbeda sesuai dengan kasusnya.

Jadi hukum pranata itu terdiri dari peraturan-peraturan pranata untuk melaksanakan suatu kaidah peraturan perundang-undangan sebagai suatu kerangka legal formal yang memberikan arah bagi rencana tindak operasional bagi pihak-pihak terkait yang diatur oleh kebijakan tersebut. Peraturan perundang-undangan merupakan kesatuan perangkat hokum antara peraturan yang satu dengan peraturan lainnya memiliki hubungan keterikatan.

Kamis, 28 Oktober 2010

THE GREEN SCHOOL



Arsitek: PT Bambu
Lokasi: Badung, Bali , Indonesia
Klien: Kul Kul Yayasan
Proyek Area: 7.542 meter persegi
Proyek Tahun: 2007
Foto: PT Bambu , Ahkamul Hakim





sebuah sekolah unik yang digagas oleh John Hardy, seorang desainer dan pengusaha jewelry yang sukses. Ingin memotivasi masyarakat untuk hidup berkelanjutan. Bagian dari upaya yang menunjukkan kepada orang bagaimana membangun dengan bahan yang berkelanjutan, yaitu bambu . Mereka mendirikan Sekolah Hijau, dan afiliasinya: Yayasan Meranggi, yang mengembangkan tanaman perkebunan bambu tanaman melalui penyajian bambu bibit kepada petani padi lokal, dan PT Bambu , laba-untuk desain dan perusahaan konstruksi yang mempromosikan penggunaan bambu sebagai primer bahan bangunan, dalam upaya untuk menghindari penipisan lebih lanjut dari hutan hujan.

Sekolah Hijau, sebuah laboratorium raksasa yang dibangun oleh PT Bambu , terletak di kampus berkelanjutan mengangkangi kedua sisi Sungai Ayung di Sibang Kaja, Bali , dalam hutan lebat dengan tanaman asli dan pohon-pohon yang tumbuh di samping kebun organik berkelanjutan. Sekolah ini merupakan satu – satu-nya sekolah di dunia yang bangunannya terbuat dari batang bamboo yang ramah lingkungan.

Sekolah ini didukung oleh sejumlah sumber energi alternatif, Pendingin udaranya tidak lagi memakai Ac, melainkan kincir angin melalui terowongan bawah tanah..termasuk bambu air panas serbuk gergaji dan sistem memasak, sebuah powered vortex generator-hydro dan panel surya. bangunan Kampus termasuk ruang kelas, pusat kebugaran, ruang perakitan, perumahan fakultas, kantor, kafe dan kamar mandi. Tenaga listiknya menggunakan bio-gas yang terbuat dari kotoran hewan untuk menyalakan kompor. Tambak udang tempat budidaya, sekaligus peternakan sapi. Ditambah lagi arena olahraga, laboratorium, perpustakaan, dll.


Berbagai arsitektur ruang yang signifikan dari besar bertingkat tempat pengumpulan komunal untuk kelas yang lebih kecil adalah fitur dari kampus. Lokal bambu , ditumbuhkan dengan metode yang berkelanjutan, digunakan dalam cara-cara inovatif dan eksperimental yang menunjukkan kemungkinan arsitektur. Hasilnya adalah sebuah komunitas hijau holistik dengan mandat pendidikan yang kuat yang bertujuan untuk menginspirasi mahasiswa untuk menjadi lebih penasaran, lebih terlibat dan lebih bergairah tentang lingkungan dan planet ini.




Kemudian yang takalah uniknya adalah jembatan bamboo yang membentang di tengah – tengah sekolah, yang dibawahnya mengalir sungai Ayung. Benar – benar alam! memang itulah salah satu visi dan juga kelebihan sekolah ini. INTERAKSI DENGAN ALAM.

Para murid diajarkan untuk dekat dengan alam disekolah yang baru berdiri 2 tahun lalu, mulai dari cara menanam padi, memproduksi coklat sendiri. Semua itu tak lepas dari harapan agar murid – murid mereka mengerti tentang berbagai hal dalam kehidupan, dan mampu menjadi pemimpin di dunia yang selalu berubah dan menantang ini.



Kesimpulan dari bangunan ramah lingkungan ini antar lain:
Di sisi lain seharusnya keberadaan Green School menginspirasi pemerintah dan swasta membuat sekolah yang mirip namun lebih affordable dalam biaya. membangun sebuah sekolah yang dapat memberikan suatu contoh nyata terhadap lingkungan yang ramah. tidak sekedar teori saja.
Andaikata sekolah di negeri ini seperti Green School, mungkin tidak akan ada lagi yang namanya illegal logging, dan pembabatan hutan secara liar, karena sejak kecil mereka telah diajarkan bagaimana cara mencintai alam.

Minggu, 27 Juni 2010

ARSITEKTUR CAROLINGIAN DAN ROMANESQUE SEJAK ABAD IX


Carolongian Renaissance

Penobatan Charlemagne dilaksanakan di S.Peter Roma, menandai jaman baru di Eropa, yaitu jaman Jerman-Kristen, dimana secara politik dan keagamaan dibawah That Suci Romawi (Holy Roman Emperor). Jaman itu disebut Carolingian Renaissance yang punya dasar budaya Jerman, terkait langsung dengan tradisi Romawi, mendapat pengaruh besar dari Bisantin dan Oriental. Jaman Carolingian yang juga sering disebut awal atau Pra-Romanesque, pada akhir abad VIII dan abad IX. Arsitektur Carolingian mempunyai ciri tersendiri terdapat terutama di Jerman dan Prancis.
Contoh sangat representatif dari arsitektur jaman tersebut adalah Istana Aix-la chapelle di mana di dalamnya terdapat Kapel Palatine, di Aacen (792-805). Aacen saat ini menjadi bagian dari Republik Federasi Jerman, terletak di bagian barat, dekat dengan perbatasan Belgia. Kompleks dibangun oleh Charlemagne dalam kompleks seluas lebih kurang 20 Ha. Secara keseluruhan, kompleks terbagi menjadi tiga bagian berupa unit-unit satu dengan yang lain terpisah, namun dihubungkan oleh sebuah selasar cukup panjang. Paling utara adalah unit untuk audiensi(Sala Regails). Yang diletakkan di depan Apse (posisinya sama denagn altar di gereja). Ruang audiensi mempunyai porche di sebelah selatan. Unit kedua berupa hall di tengah-tengah, ke kiri atau ke ruang audiensi, melalui sebuah selasar di bawah atap, sepanjang lebih kurang 50 M.
Ke arah kanan atau selatan dari hall juga terdapat lagi selasar yang bentuk dan panjang sama dengan yang disebut pertama, menghubungkan hall dengan Kapel. Bagian dimana terdapat Kapel, selain kapelnya sendiri. Ada tiga unit lain masing-masing tersusun dalam pola silang salib atau huruf T. Pada kaki terdapat atrium cukup luas dibanding dengan kapel yang tidak terlalu besar. Bagian ini dihubungkan langsung dengan bagian sentral dari kapel. Gang atau ruang peralihan antara atrium denagn kapel, diapit kembar di kiri-kanan oleh sebuah tangga naik menuju ke menara(turret).

Arsitektur kapel sangat mirip dengan S.Vital di Ravenna. Denah kapel poligonal bersisi 16, garis tengahnya 32 M. nave atau bagian sentraldari kapel dikelilingi oleh delapan kolom, masing-masing bila ditarik garis antara dua kolom berdampingan terbentuk segi delapan. Kolom-kolom cukup besar dengan penampangsegi banyak tidak beraturan, menyangga sebuah kubah garis tengahnya 14,5m. Kubah ini dahulu ditutup dengan atap piramida bersisi delapan. Aisle dua lantai menelilinginnave, bagian dalam segi delapan, namun dinding bagian uarnya segi enambelas. Lantai dua untuk gang atau balkon, membentuk mezzanine di atas nave.
Sejak didirikan kapel cukup banyak mengalami perubahan, terutama pada masa antara 1353 hingga 1413, apse diperpanjang ke belakang (timur) untuk ruang kotor (choir) dengan gaya gotik. Bidang-bidang segitiga pada ujung-ujung dari atap pelana (gable) dibuat pada abad XIII. Kapel tambahan kiri-kanan dibangun pada abad XIV dan XV. Hiasan-hiasan runcing-piramida (steeple) ditambahkan pada jaman modern abad XX
Pengaruh Bisantin dalam arsitektur Kapel Palatine terlihat antara lain pada jendela atas di setiap sisi tambur. Kolom-kolom silindris dan dekorasinya pada lantai atas amabang atas pelengkung adalah bagian khas dari arsitektur Romawi.
Di Worms, sebuah kota sekarang di dalam Republik Federal Jerman, sekitar 50 Km dari Frankfurt, terdapat sebuah katedral, memakai nam kotanya yaitu katedral worms, didirikan oleh Conrad II. Pembangunan dimulai pada 1171 selesai dibangun pada 1230, merupakan rekonstruksi dari Katedral S.Peter sudah ada sebelumnya tidak diubah. Seperti kota-kota modern yang ada di Eropa sekarang, bangunan kuno ini berada di tengah-tengah kota Worms saat ini menjadi kota lama. Katedral berdenah segi empat, sisi terpanjang 107.60 M lebar 25.60 M. perbandingan keduanya sekitar sari dibanding empat lebih, sehingga katedral terlihat sangat panjang.
Di Cologne, sebuah kota di Perancis bagian selatan, terdapat sebuah gereja berarsitektur Carolongian, bernama gereja Apostles gereja didirikan mulai 1190 dan masa-masa berikutnya banyak mengalami penambahan. Denahnya memanjang ke arah timur-barat dari ujung ke ujung panjangnya 82.30 M lebar 26.80 M terdiri dari nave dan aisle kiri-kanan (utara selatan). Tata runag semacam itu menjadi tradisi gereja sejak jaman Kristen Awal. Gereja mempunyai apse dobel, khas Carolongian satu yang utama diujung timur-utara, lainnya di barat-selatan. Apse di ujung timur lebih besar denahnya setengah lingkaran, yang dibarat bujur sangkar.
Meskipun tidak setinggi katedral Worms, corak Carolongian lainnya juga terlihat pada adanya menara mengapit kembar di kiri kanan masing-masing apse tersebut diatas.
Keunikan gereja ini antara lain terlihat pada adanya ceruk maacam apse, di sisi kiri kanan (utara selatan) ujung timur nave. Denah dari bagian semacam apse tersebut setengah lingkaran, sama dengan apsenya yang ada di ujung timur. Pada ujung timur terdapat empat buah klom besar dan tinggi (dalam posisi pada titik sudut bujur sangkar), penyangga atapnya yang berbentuk kerucut patah-patah bersisi delapan. Pada puncak dari atap bersisis delapan terdapan lantern. Selain atap-atap runcing kerucut, termasuk pada atap menara, nave yang memanjang beratap pelana dengan kerangka kuda-kuda kayu segi tiga. Atap aisle setengah kuda-kuda berisi miring tunggal. Kedua menara kecil di ujung barat mengapit sebuah unit berdenah bujur sangkar di ujun barat. Bagian ini dindingnya tinggi membentuk sebuah menara tinggi dan besar.
Gereja S.Michael di Hildeshiem sebuah kota kecil di Jerman bagian utara-timur sekitar 200 Kmdi sebelah barat dari Berlin, dibangun antara 1001, juga berkarakter dominan Carolongian. Gereja mempunyai empat menara dalam hal ini semuanya silindris, meninggi atapnya kerucut. Dua diantaranya didepan kembar mengapit ujung depan nave depan, dua lainnya dibelakang mengapit narthex. Denah gereja simetris, bagian-bagian selain menara, gerbang masuk dan ujung depan nave, atapnya pelana dan aisle beratap satu sisi miring.

Senin, 04 Januari 2010

Sejarah arsitektur, dari asal-usulnya ke dunia modern, dan apapun skala dan program program, terdiri atas karya-karya di mana konsep dan konkret, ide dan materi realisasi, yang dijalin ke dalam sebuah sintesis yang membuat mereka entitas sempurna. Tanpa kultur teknis, Brunelleschi, Horta, Kahn, Piano, Ito, Zumthor (dan begitu banyak lainnya) tidak akan pernah mampu membangun karya-karya mereka. Tapi di sisi lain, satu tidak bisa bicara secara tegas tentang aspek teknis pekerjaan mereka tanpa berbicara tentang arsitektur dan ruang mereka.
Pendekatan arsitektur Oleh karena itu proses yang holistik. Konsep arsitektur menegaskan kembali sebagai berbagai kendala teknis diperkenalkan. Memaksakan proyek sendiri ketertiban dan rasionalitas tunggal pada produksi, dan sebaliknya. The "konstruksi kebenaran" dari sebuah proyek adalah batas intelektual hubungan antara desain dan produksi, sementara "detail konstruksi" adalah batas materi.
Merancang sebuah proyek arsitektur berarti mendefinisikan dan definisi itu berarti mengambil laporan lengkap dari yang konkret dari arsitektur dalam segala aspeknya. Lebih dari itu, jika kita menuruti kelemahan tegas percaya bahwa arsitektur adalah seni dan yang utama sekali kita siap untuk mengenali bidang seniman dalam karya "membuat terlihat" pengalaman intens kenyataan, maka untuk arsitek, mencari "tektonik" ekspresi adalah sarana untuk membuat terlihat. Pengalaman realitas yang ditingkatkan di sini kekhawatiran berat, beban, kekuatan, bentuk dan bahan, dan cara di mana mereka menemukan ekspresi terlihat. "struktur" sebagai prinsip dan tatanan imanen diwujudkan melalui "pembangunan", tetapi hanya "architectonics" yang membuat struktur dan konstruksi terlihat, dan memberikan mereka sebuah ekspresi artistik dan dimensi puitis.

• TUJUAN:

Jadi pertanyaan adalah mengetahui dan memahami bagaimana arsitek bekerja: bagaimana / di ruang kerjanya, program, fungsi, bentuk, cahaya dan distribusi memberikan kontribusi terhadap logika dan ekonomi dari produksi dan bagaimana, di sisi lain , konstruksi dan bahan pertimbangan berkontribusi terhadap karya arsitektur. Ini adalah masalah pemahaman mengapa "teknis dan ide pembangunan" adalah suatu yang muncul dan dikembangkan dalam proyek seperti argumen visual atau fungsional alam. Kursus mengusulkan untuk menangani masalah pemahaman hubungan yang diperlukan antara pilihan spasial dan pilihan pembangunan yang membentuk mereka. Memperkenalkan mahasiswa untuk efisien, berbuah dialog antara desain dan pembangunan proyek, dan menyiapkan kondisi untuk regenerasi budaya gagasan tentang membangun.

RINGKASAN:

• Arsitektur dan konstruksi: hubungan fundamental
• Dari konsep ke beton (gagasan dipraktikkan)
• Tektonik dan puisi dalam konstruksi
• Kesesuaian, tingkat teknis dan efisiensi sistem struktural
• Dari bahan untuk ekspresi arsitektural
• Alam dan peran detail
• Menuju architectonics






The Melbourne Theatre Company, adalah proyek bersama yang menarik di Australia, yang menggabungkan arsitektur + musik melalui konstruksi. Fasilitas ini dilengkapi dengan state-of-the-art: drama teater, latihan aula, kafe, lounge dan bar. Pada malam hari, eksterior bangunan tetangga memberikan arsitektonis grid-seperti sistem pencahayaan notioning rasa harmonik energi dari dalam. (Apakah ini masuk akal?) Ini akan menjadi tempat yang tepat untuk pameran audio oleh Donnacha Costello, tetapi tidak ada Kanye West.
"Kami adalah konsultan desain terdepan dengan reputasi untuk inovasi, beasiswa dan kreativitas. Kami bertujuan untuk membuat kontribusi nyata dalam kehidupan klien kami dengan memahami budaya dan menggabungkan mereka ke dalam lingkungan baru mereka ide-ide yang mendukung budaya itu. "_ARM Learn More
MIN001 Donnacha Costello "Zhana (digital remaster) Beatport ini keluar pada Jumat, Juli 24! Membelinya.







ARSITEKTONIS NEGARA ISLAM
Tulisan ini membahas titik teknis pada tingkat arsitektonis mikro, yaitu pola-pola decagonal Islam, tetapi terutama hubungan dengan masalah budaya di tingkat global, yang bertujuan untuk mengambil asli identitas arsitektur di kota-kota di negara-negara Islam saat ini. Ini link persaingan arsitektonis seni di dunia dengan persaingan ideologi dalam era globalisasi. Hari ini, ideologi Islam dan identitas telah menjadi di garis depan politik dan perdebatan ilmiah sama. Di satu sisi, komunitas ilmiah dari negara-negara Barat saat ini mendedikasikan kelemahan bangsa-bangsa Muslim dalam banyak bidang ilmu pengetahuan, teknologi, arsitektur dan aspek budaya, apa yang mereka sebut sebagai rezim Islam. Jurnal internasional "Nature" telah menerbitkan serangkaian artikel bias subjek ini (berita di www.nature.com Alam), yang marah banyak intelektual Islam dari seluruh dunia. Beberapa dari mereka telah menanggapi dengan membandingkan antara kondisi perkembangan / status dari Barat dan negara-negara Islam di abad pertengahan telinga, yaitu era keemasan negara-negara Islam. Namun, tanpa mendiskusikan apa yang telah berubah, misalnya, apa penyebab dari ledakan perkembangan bangsa-bangsa Kapitalis dan penurunan yang tajam pada ilmu-ilmu dan ekonomi negara-negara Islam? Sebaliknya, ada peneliti dan intelektual yang tidak bias untuk setiap gagasan tidak logis. Mereka membandingkan hasil penemuan saat ini, serta arsitektur dan perkembangan budaya dengan apa yang telah dilakukan di kabupaten muslim selama era Medieval. Kertas dari Peter J. Lu et al, pada pola Girih Islam adalah contoh seperti itu (Peter J. Lu et al, 2007), tetapi, itu arsitektonis warps bahwa proses desain dan mengurangi nilai dari desain-paten dari Abad Pertengahan arsitek di dunia Muslim. Meskipun, mereka tidak menyatakan dengan jelas bahwa kemajuan zaman itu telah dilakukan oleh kaum Muslim sendiri, karena beberapa telah menyatakan, misalnya, di bidang astronomi dan arsitektur (Castéra 1999, Nallino 1911), hal itu menunjukkan bahwa mereka setidaknya kreatif ide adalah hasil dari, atau telah terinspirasi oleh, pemikiran Islam dan ideologi inti, yang belum pernah terjadi sebelum itu. Selain itu, situasi itu dapat berarti bahwa meskipun saat ini kampanye anti-Muslim, para peneliti barat nonbiased menghormati pencapaian peradaban Islam.
Namun, memaksakan tren baru (s) dari apa yang disebut globalisasi di dunia Islam mengancam kelangsungan umat Islam menafsirkan 'identitas dalam arsitektur, yaitu karakter fisik kota-kota di negara-negara Muslim. Itu terutama menyangkut isu transformasi perkotaan arsitektonis-dialog, yang biasanya didukung oleh rezim politik. Di Mesir, pada awal abad ke-19, Mohamed Ali memulai gerakan seperti itu untuk membuat citra visual Kairo seperti kota-kota Eropa, dan dilanjutkan oleh para penerusnya (lihat, misalnya, El-Rafey, 1930 & El-Hamshary et al 2006). Pada abad ke-20 transformasi ini dipengaruhi oleh arsitektur sistematis mendirikan studi di Universitas Kairo, yang memperkenalkan arsitektur baru tren internasional ke dalam pendidikan arsitektur lokal. Oleh karena itu, bahwa konsolidasi sektor industri dari negara-negara barat lebih dari mengambil dan menekankan gaya arsitektural otentik (Aboulfotouh 2005b) bahwa rezim Mohamed Ali sudah mulai menghapuskan ratus tahun sebelumnya, dan itu beraksen oleh Khedive Ismaeil di akhir abad ke-19. Sekarang, pada awal abad ke-21, transformasi dikombinasikan dengan menggantikan statis dasar dan bentuk-bentuk abstrak, dari arsitektur abad ke-20, dengan bentuk yang dinamis, masuk ke dalam wilayah penerapan konsep-konsep topologi (lihat, misalnya, Borisovich , et al 1985) pada arsitektur transformasi, dengan memindahkan, memutar, penekanan atau peregangan statis atau bentuk bentuk .
Laju gerakan semacam itu tampaknya lebih cepat daripada proses memahami dasar pengetahuan ilmiah di belakang menciptakan arsitektur abad pertengahan tetapi Islam otentik gambar. Rupanya, dari sudut pandang arsitek muda, mengikuti tren arsitektur baru mungkin terlihat lebih mudah daripada menyelidiki proses menciptakan desain arsitektur pada era keemasan Islam. Selain itu, hari ini hampir tidak dapat menemukan buku-buku di perpustakaan Arab yang mungkin ditulis oleh arsitek-arsitek zaman abad pertengahan, dan bahwa mereka justru menunjukkan filosofi disain dan proses menciptakan arsitektur motif Islam. Tampaknya bahwa arsitek dari hari-hari itu (dan mungkin kasus ini sama kebudayaan-kebudayaan lainnya juga) belum pernah menulis buku jenis ini seperti yang kita baca dalam ilmu-ilmu sosial lainnya. Semua apa yang kita miliki sekarang adalah teori-teori tersebut dan postulasi oleh peneliti sekarang, dan banyak dari mereka yang bukan muslim juga bukanlah penduduk asli negara-negara Muslim, dan pendekatan mereka sangat meragukan, khususnya pendekatan mereka untuk menafsirkan ideologi Islam ke dalam pola geometris, tetapi mereka menghasilkan buku-buku profesional. Buku-buku ini (misalnya, Castéra 1999 & Yves 1997) bermanfaat bagi mahasiswa arsitektur di kabupaten barat, karena mereka dapat membaca teks-teks asing, dan banyak mahasiswa Arab hampir tidak dapat membaca dan memahami mereka, dan dengan demikian mereka hanya membaca gambar mereka. Mengenai pola Islam, sarjana Muslim sebaliknya, pencarian hanya pada akhir menganalisis output dari pola-pola ini tanpa menunjukkan proses merancang dan mengembangkan mereka. Al-Nahass buku adalah contoh seperti itu (Al-Nahass 2007); meskipun itu mencakup berbagai pola, ia tidak memiliki penjelasan. Kondisi itu menunjukkan salah satu array kelemahan dalam bidang arsitektur otentikasi pendidikan di kabupaten muslim.
Dalam ranah Mesir, itu hanyalah kurangnya referensi yang otentik untuk mendidik mahasiswa arsitektur kami, dan kembali melanjutkan apa Mohamed Ali telah dihapuskan, hampir dua ratus tahun yang lalu. Kurangnya buku-buku arsitektur dari zaman keemasan Islam menunjukkan bahwa pendidikan arsitektur dalam periode itu diserahkan dari generasi ke generasi pada basis verbal dan praktek, tanpa tulisan. Meskipun, kemajuan mereka dan kreativitas dalam desain arsitektur, kita tidak dapat menemukan tanda-tanda untuk membuktikan bahwa ada arsitektur sistematis pendidikan di era keemasan mereka. Oleh karena itu, dalam konteks ini, titik waktu ketika rezim politik mulai mendukung tren arsitektur baru adalah saat yang sama menghentikan kontinuitas menyerahkan kursus arsitektur verbal dari generasi ke generasi, yaitu, bahwa proses pendidikan verbal tapi tidak praktis tidak termasuk mempelajari filsafat dan sejarah arsitektur, yang dimulai dengan mendirikan Universitas Kairo. Dalam dekade-dekade awal abad ke-20, yang mengganggu tren arsitektur asing telah mendominasi kota-kota Mesir dan melemahkan kemampuan kompetitif yang otentik dialog arsitektur tren Islam. Karya lokal tapi arsitek asing tidak mendukung diskontinuitas. Dan bahkan dalam konteks sistematis studi arsitektur, tren arsitektur yang otentik tidak pernah diberikan tangan dan kaki di sah, konstituen dan basis komunal, karena tidak adanya kemauan politik (Aboulfotouh 2005b).
Kasus Mesir hampir mirip dengan kasus-kasus negara-negara Muslim lainnya. Di negara-negara ini, arus transformasi arsitektonis-kota mereka dialog secara tidak langsung didominasi oleh tren baru dari negara-negara barat, sehingga tidak ada kesempatan bagi dunia Muslim untuk melestarikan identitas arsitektur mereka. Banyak arsitek muda dari county Muslim meniru desain orang lain tanpa memahami ilmu-ilmu dasar dari yang paling otentik, baik foto atau gambar inovatif terbaru. Sebagai contoh, mengenai tren topologi baru, sangat sedikit arsitek mengerti apa topologi, karena itu topologi (misalnya, Borisovich, et al 1985) tidak diajarkan sebagai subjek arsitektonis dasar pada tahun pertama pendidikan arsitektur kita.
Perkembangan pemikiran arsitektonis tersebut sampai mencapai klimaks aplikasi dan sebelum menurun karena alasan-alasan yang disebutkan di atas bahwa menghapuskan otentik gambar arsitektur kota-kota kita. Pesan tersembunyi dari makalah ini adalah untuk menunjukkan bahwa arsitek dari hari-hari ini dapat dengan mudah menguasai dialog arsitektonis kota-kota kita sebagaimana yang di abad pertengahan, dan membuatnya mampu bersaing dengan tren arsitektur barat, menggunakan aplikasi dari arsitektur pola Islam sebagai contoh. Namun, tujuan utamanya terletak dalam domain dari pendidikan arsitektur, dengan mengambil proses termudah untuk merancang dan menciptakan pola-pola arsitektur yang tidak hanya berbicara atas nama Islam, tapi juga sesuai kebutuhan saat ini, yang tersedia sumber daya dan kemampuan manusia . Kami fokus di sini, di decagonal girih pola-pola yang ditemukan di Gereja dan Masjid Mesir abad pertengahan dan di tempat lain.

ARSITEKTONIK DALAM PERKEMBANGAN JAMAN

Tahun 500 SM di Yunani diklaim sebagai masa munculnya (raison d ‘etre) tradisi arsitektur. Secara etimologi, kata arsitektur atau arche-tekton lahir dari tradisi Yunani. Dalam ranah metode berpikir Yunani terdapat pola pencampuran antara mitologi, mistisisme, dan matematika yang terangkum dalam ilmu filsafat Yunani. Dari dasar itulah terbentuk wujud arsitektur Yunani seperti arsitektur kuil tempat pemujaan terhadap dewa (kuil Parthenon), sistem proporsi matematis Golden Section yang lahir dari konsep Pythagoras serta kolom -kolom Doric, Ionic, Corinthian sebagai sistem simbol feodalisme Yunani.
Vitruvius berhasil mengalihkan perhatian dunia dan menembus batas jaman dengan menyusun naskah arsitektur pertama berjudul The Ten Books of Architecture. Sebagai bangsa Romawi Vitruvius berjalan tegap dengan angkuh melirik warisan tradisi bangsa Yunani sebagai bangsa jajahannya dan mencoba untuk mengambil keuntungan darinya, dalam rangka memperbaiki selera estetis bangsa Romawi yang pada saat itu hanya mengetahui cara berperang untuk memperluas kekuasaannya (will to power).
Seiring dengan berjalannya waktu, Vitruvius mencoba memodifikasi dengan menambahkan sentuhan pada khasanah arsitektur Yunani dengan harapan bangsa Romawi memiliki ciri khasnya sendiri. Vitruvius berkontribusi besar terhadap kemajuan arsitektur Romawi yang mengambil dasar dari arsitektur Yunani. Selain menghunuskan pedangnya, bangsa Romawi juga memperkenalkan arsitekturnya kepada bangsa-bangsa diseluruh daratan Eropa. Dapat disebutkan bahwa kedua era itu ialah era arsitektur Klasik.
Setelah bangsa-bangsa Eropa terlepas dari kekuasan bangsa Roma, timbul kegelisahan yang sangat mendasar yaitu hilangnya orientasi akan wujud arsitektur. Bahkan era ini disebut era kegelapan bagi bangsa-bangsa di Eropa karena keluar dari kerangka berpikir Yunani sebagai raison d‘etre kemajuan arsitektur. Mulai berkembang tradisi-tradisi arsitektur yang bernuansa keagamaan yaitu arsitektur Romanesque dan arsitektur Gothic sekitar pada abad ke-13, yang mewujudkan arsitektur pada skala Tuhan dengan harapan mendekatkan manusia dengan Tuhan. Di era ini sistem nalar rasional dibungkam sehingga sisi kreativitas dibatasi yang mengakibatkan kemajuan terhambat di segala lini kehidupan termasuk arsitektur.
Di dalam carut marutnya realitas yang sudah tidak bisa lagi mengatasi permasalahan-permasalahan hidup yang diawali oleh terjadinya Revolusi Perancis pada abad ke-15, bangsa Eropa mulai kembali pada romantisme era klasik yang sarat dengan konteks nalar rasional. Era ini disebut era Renaissance (pencerahan) dan meninggalkan era arsitektur yang bernuasakan agama. Ditandai dengan diktum Cogito Ergo Sum- nya Rene Descartes (ketika aku berpikir maka aku ada), arsitektur dikembalikan lagi pada skala manusia (antroposentris) dan era itu kemudian disebut sebagai era arsitektur Renaissance.
Perkembangan budaya dan teknologi terjadi sangat pesat di era ini,ditandai oleh terjadinya revolusi industri di Inggris sekitar pada abad ke-19. Perkembangan ini juga mempengaruhi arsitektur yaitu dengan munculnya era arsitektur modern. Seperti judul novel Charles Dickens, “A Tale of Two Cities” yang menggambarkan sebuah situasi perkotaan di mana terdapat ketidakadilan dan kekumuhan di tengah kemewahan kota. Situasi ini segera menyadarkan bahwa perumahan buruh perlu segera diproduksi besar-besaran di Eropa. Revolusi industri menunjang kebutuhan ini akibat dari penemuan berbagai teknologi bahan dan teknologi konstruksi untuk kepentingan produksi massal. Juga penemuan mekanika modern elevator sehingga bangunan bisa dipanjangkan ke atas mencakar langit. Selain arah selera estetika ditujukan pada kelas sosial ke bawah, teknologi juga dihayati efek bentuknya, sedangkan rasionalisme arsitektonik mulai pula dijelajahi. Ornamen mulai dipercayai oleh Adolf Loos sebagai wujud kejahatan arsitektural (ornament is a crime) karena tempelan dari ukiran dianggap sebagai kebenaran yang palsu. Maka konsep modernisme memang semakin mengkristal ke arah rasionalisme dan fungsionalisme yang digali dari era pencerahan (Aufklarung).
Fungsionalisme menjadi tujuan akhir dari era ini. Filosofis “bentuk mengikuti fungsi” yang dicetuskan oleh Louis Sullivan di Chicago menjadi doktrin yang sangat disukai. Pernyataan “less is more” oleh Mies van der Rohe.menjadi sebuah manifesto yang sangat pas dengan logika industri bangunan, bahwa estetika arsitektur harus berdasarkan prinsip itu.
Dari tradisi modern kemudian lahir sebuah pemahaman yang mencari otentisitas dari arah manifesto arsitektur modern yaitu gerakan avant garde. Di era ini arsitektur modern, arsitektur tradisional, dan klasik adalah representasi dan simbol dari penindasan yang dilakukan baik oleh feodalisme maupun totalitarianisme arsitokrasi. Dalam era arsitektur avant garde, seluruh tuntutan fungsionalisme modern secara teknis harus dapat dirumuskan terlebih dahulu ke dalam program arsitektur baru. Program menyimpan aksi-aksi dan rasionalitas ini yang kemudian membimbing lahirnya tipe-tipe rancangan arsitektur baru yang menurut Pevsner “jika sejarawan arsitektur meremehkan gaya, ia mandeg sebagai sejarawan”.




Dalam filsafat, Architectonics adalah sistematisasi ilmiah semua pengetahuan. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Aristoteles dalam Politik untuk menggambarkan politik, yang berarti bahwa politik meliputi semua pengetahuan.
Dalam arsitektur itu sering didefinisikan sebagai "dari atau berhubungan dengan ilmu arsitektur dan desain". Dalam pengertian ini, "arsitektonis" berarti seni dan ilmu bangunan dan konstruksi. Kata mulai memperoleh makna yang modern pada akhir abad kesembilan belas di Jerman sebagai architektonisch untuk menentukan jenis dianggap sensibilitas untuk membentuk dan desain, sebuah kepekaan yang lebih suka sederhana di kompleks, dan sumur-dibangun di atas diproduksi secara massal. Saat ini, kata architectonics digunakan lebih sempit dalam pengertian semiotik untuk merujuk pada penggunaan bagian-bagian sebagai tanda-tanda ekspresif yang membentuk sistem bahasa gedung.
Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan suatu pendekatan untuk merancang di mana elemen-elemen struktural bangunan yang diwahyukan, dan fungsi mereka diungkapkan. Louis Kahn's Yale Center for British Art atau Richard Rogers 'Pompidou Center.
Filsafat adalah disiplin ilmu yang bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana seseorang harus hidup (etika); apa macam hal-hal yang ada dan apa yang mereka sifat-sifat penting (metafisika); apa yang dianggap sebagai pengetahuan sejati (epistemologi), dan apa prinsip-prinsip yang benar penalaran (logika ).

Berkaitan dengan atau sesuai dengan prinsip-prinsip arsitektur.
Memiliki kualitas arsitektur dalam hal struktur dan konsep. (geologi) Kekuatan yang menentukan struktur

• ArchiTECTONICS: trans-disiplin penalaran dan termanifestasi dalam desain arsitektur awal
Pendekatan pedagogis desain dalam arsitektur mulai sering beranggapan mode multi-disiplin untuk menyaring eksplorasi masalah parameter (persepsi) dan penemuan untuk berulang memahat potensial (operasional). Sebuah melihat lebih dekat menunjukkan trans-disiplin saat dalam proses desain arsitektur yang datang sebelumnya, dalam, dan / atau sekitar akar-disiplin dari pra-disiplin ilmu, seperti Visual Literacy, penting untuk eksplorasi dan komunikasi dalam desain.

• arsitektonis: 2. memiliki kualitas, seperti desain dan struktur, yang merupakan ciri khas arsitektur.
Iterasi dan memahami melalui setiap disiplin dinamis, misalnya, dan / atau tindakan dalam proses melampaui merancang, membangun, dan struktur tetangganya untuk eksploratif urutan, maksud, dan pematangan desain penalaran untuk resolusi. Sebuah kesadaran disiplin akut negara, dalam proses desain jatuh tempo, dapat mengurangi ketidakjelasan fondasi ideologis dan memfasilitasi pertumbuhan trans-disiplin penalaran, membuat, dan berkomunikasi dalam disiplin root.

arsitektonis: 3. dari atau berhubungan dengan sistematisasi pengetahuan ilmiah.
Immanual Kant membahas ini dalam bukunya "Critique of Pure Reason": "Dengan istilah arsitektonis Maksudku seni membangun sebuah sistem. Tanpa kesatuan sistematis, pengetahuan kita tidak bisa menjadi ilmu pengetahuan; itu akan menjadi agregat, dan bukan sebuah sistem. Jadi arsitektonis adalah doktrin ilmiah dalam kognisi, dan karena itu harus merupakan bagian dari Metodologi kami. "

Proposal ini bertujuan untuk mendiskusikan saat trans-disiplin (2D, 3D, dan berdasarkan waktu latihan) dilaksanakan untuk persepsi dan operasional tahap awal desain arsitektur yang memprovokasi kesadaran situasional dan kondisional. Selain itu, variasi pada lapisan akan archiTECTONICS diskusi yang terkait dengan penalaran dan termanifestasi dalam cara yang memungkinkan desain awal siswa untuk mengenali pra-dan trans-disiplin ideologi, kecepatan, dan tujuan. Melibatkan ini sebagai strategi untuk melihat, berpikir, dan melakukan manuver melalui proses dinamis yang melimpah batas-batas disiplin desain memberikan kebebasan dan kejelasan untuk penalaran, mewujudkan, dan berkomunikasi di root disiplin, dalam hal ini arsitektur.
Keywords: Menganalisis Seni Forms, Moving Pictures, Spasial dan arsitektonis Seni, Awal Desain Arsitektur, Pra-disiplin, Trans-disiplin, archiTECTONICS, Time-based Citra