
Carolongian Renaissance
Penobatan Charlemagne dilaksanakan di S.Peter Roma, menandai jaman baru di Eropa, yaitu jaman Jerman-Kristen, dimana secara politik dan keagamaan dibawah That Suci Romawi (Holy Roman Emperor). Jaman itu disebut Carolingian Renaissance yang punya dasar budaya Jerman, terkait langsung dengan tradisi Romawi, mendapat pengaruh besar dari Bisantin dan Oriental. Jaman Carolingian yang juga sering disebut awal atau Pra-Romanesque, pada akhir abad VIII dan abad IX. Arsitektur Carolingian mempunyai ciri tersendiri terdapat terutama di Jerman dan Prancis.
Contoh sangat representatif dari arsitektur jaman tersebut adalah Istana Aix-la chapelle di mana di dalamnya terdapat Kapel Palatine, di Aacen (792-805). Aacen saat ini menjadi bagian dari Republik Federasi Jerman, terletak di bagian barat, dekat dengan perbatasan Belgia. Kompleks dibangun oleh Charlemagne dalam kompleks seluas lebih kurang 20 Ha. Secara keseluruhan, kompleks terbagi menjadi tiga bagian berupa unit-unit satu dengan yang lain terpisah, namun dihubungkan oleh sebuah selasar cukup panjang. Paling utara adalah unit untuk audiensi(Sala Regails). Yang diletakkan di depan Apse (posisinya sama denagn altar di gereja). Ruang audiensi mempunyai porche di sebelah selatan. Unit kedua berupa hall di tengah-tengah, ke kiri atau ke ruang audiensi, melalui sebuah selasar di bawah atap, sepanjang lebih kurang 50 M.
Ke arah kanan atau selatan dari hall juga terdapat lagi selasar yang bentuk dan panjang sama dengan yang disebut pertama, menghubungkan hall dengan Kapel. Bagian dimana terdapat Kapel, selain kapelnya sendiri. Ada tiga unit lain masing-masing tersusun dalam pola silang salib atau huruf T. Pada kaki terdapat atrium cukup luas dibanding dengan kapel yang tidak terlalu besar. Bagian ini dihubungkan langsung dengan bagian sentral dari kapel. Gang atau ruang peralihan antara atrium denagn kapel, diapit kembar di kiri-kanan oleh sebuah tangga naik menuju ke menara(turret).
Arsitektur kapel sangat mirip dengan S.Vital di Ravenna. Denah kapel poligonal bersisi 16, garis tengahnya 32 M. nave atau bagian sentraldari kapel dikelilingi oleh delapan kolom, masing-masing bila ditarik garis antara dua kolom berdampingan terbentuk segi delapan. Kolom-kolom cukup besar dengan penampangsegi banyak tidak beraturan, menyangga sebuah kubah garis tengahnya 14,5m. Kubah ini dahulu ditutup dengan atap piramida bersisi delapan. Aisle dua lantai menelilinginnave, bagian dalam segi delapan, namun dinding bagian uarnya segi enambelas. Lantai dua untuk gang atau balkon, membentuk mezzanine di atas nave.
Sejak didirikan kapel cukup banyak mengalami perubahan, terutama pada masa antara 1353 hingga 1413, apse diperpanjang ke belakang (timur) untuk ruang kotor (choir) dengan gaya gotik. Bidang-bidang segitiga pada ujung-ujung dari atap pelana (gable) dibuat pada abad XIII. Kapel tambahan kiri-kanan dibangun pada abad XIV dan XV. Hiasan-hiasan runcing-piramida (steeple) ditambahkan pada jaman modern abad XX
Pengaruh Bisantin dalam arsitektur Kapel Palatine terlihat antara lain pada jendela atas di setiap sisi tambur. Kolom-kolom silindris dan dekorasinya pada lantai atas amabang atas pelengkung adalah bagian khas dari arsitektur Romawi.
Di Worms, sebuah kota sekarang di dalam Republik Federal Jerman, sekitar 50 Km dari Frankfurt, terdapat sebuah katedral, memakai nam kotanya yaitu katedral worms, didirikan oleh Conrad II. Pembangunan dimulai pada 1171 selesai dibangun pada 1230, merupakan rekonstruksi dari Katedral S.Peter sudah ada sebelumnya tidak diubah. Seperti kota-kota modern yang ada di Eropa sekarang, bangunan kuno ini berada di tengah-tengah kota Worms saat ini menjadi kota lama. Katedral berdenah segi empat, sisi terpanjang 107.60 M lebar 25.60 M. perbandingan keduanya sekitar sari dibanding empat lebih, sehingga katedral terlihat sangat panjang.
Di Cologne, sebuah kota di Perancis bagian selatan, terdapat sebuah gereja berarsitektur Carolongian, bernama gereja Apostles gereja didirikan mulai 1190 dan masa-masa berikutnya banyak mengalami penambahan. Denahnya memanjang ke arah timur-barat dari ujung ke ujung panjangnya 82.30 M lebar 26.80 M terdiri dari nave dan aisle kiri-kanan (utara selatan). Tata runag semacam itu menjadi tradisi gereja sejak jaman Kristen Awal. Gereja mempunyai apse dobel, khas Carolongian satu yang utama diujung timur-utara, lainnya di barat-selatan. Apse di ujung timur lebih besar denahnya setengah lingkaran, yang dibarat bujur sangkar.
Meskipun tidak setinggi katedral Worms, corak Carolongian lainnya juga terlihat pada adanya menara mengapit kembar di kiri kanan masing-masing apse tersebut diatas.
Keunikan gereja ini antara lain terlihat pada adanya ceruk maacam apse, di sisi kiri kanan (utara selatan) ujung timur nave. Denah dari bagian semacam apse tersebut setengah lingkaran, sama dengan apsenya yang ada di ujung timur. Pada ujung timur terdapat empat buah klom besar dan tinggi (dalam posisi pada titik sudut bujur sangkar), penyangga atapnya yang berbentuk kerucut patah-patah bersisi delapan. Pada puncak dari atap bersisis delapan terdapan lantern. Selain atap-atap runcing kerucut, termasuk pada atap menara, nave yang memanjang beratap pelana dengan kerangka kuda-kuda kayu segi tiga. Atap aisle setengah kuda-kuda berisi miring tunggal. Kedua menara kecil di ujung barat mengapit sebuah unit berdenah bujur sangkar di ujun barat. Bagian ini dindingnya tinggi membentuk sebuah menara tinggi dan besar.
Gereja S.Michael di Hildeshiem sebuah kota kecil di Jerman bagian utara-timur sekitar 200 Kmdi sebelah barat dari Berlin, dibangun antara 1001, juga berkarakter dominan Carolongian. Gereja mempunyai empat menara dalam hal ini semuanya silindris, meninggi atapnya kerucut. Dua diantaranya didepan kembar mengapit ujung depan nave depan, dua lainnya dibelakang mengapit narthex. Denah gereja simetris, bagian-bagian selain menara, gerbang masuk dan ujung depan nave, atapnya pelana dan aisle beratap satu sisi miring.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar