Kampong Glam atau nama aslinya "Kampung Gelam"
terletak di Singapura, menjadi pemukiman awal masyarakat Bugis dan Jawa dari Indonesia.
Kampong Glam mendapat namanya dari Pohon Gelam yang terdapat di seluruh Singapura hingga kini.
Terdapat pelbagai lokasi menarik di sini. Masjid Sultan, Istana Kampung Glam, Taman Warisan Melayu dan perkampungan tradisional Melayu Kampung Glam ialah antara lain lokasi menarik yang menyimpan 1.000 rahasia khazanah sejarah awal pembentukan Singapura.
Semua tempat ini, yang dibangun semasa pemerintahan Inggris, direnovasi dan dikelola dengan baik oleh pemerintah Singapura dengan kerjasama Lembaga Pariwisata Singapura (STB) setelah dikenal dapat menjadi produk pariwisata.
Foto sumber: "Kampong Glam - Roh Masyarakat"
Foto sumber: "Kampong Glam - Roh Masyarakat"
Foto sumber: "Kampong Glam - Roh Masyarakat"
Masjid Sultan. Bangunan megah dengan kubah emas. Di dalamnya pun terbentang karpet berbulu tebal dan tergantung lampu-lampu mewah. Ketika saya sholat disana, semuanya sangat bersih. Mulai mukena dan karpet tak berbau dan tak terlihat noda. Begitu penjaga masjid tahu kami orang muslim, dengan gampangnya meminta ijin untuk mengambil gambar. Padahal saya sudah was-was tidak bisa melakukan kegiatan itu disini. Keunikan Masjid ini adalah konstruksi di bawah kubah emas yang terbuat dari susunan boto kosong.
Satu lagi, Istana Kampong Glam. Bangunan yang telah di restorasi ini, dulunya menjadi tempat tinggal para sultan melayu. Konon beberapa anggota keluarga masih keturunan orang Indonesia. Terlihat dari replika gasibu dan replika kapal bugis.
Masjid Sultan terletak di Muscat Street dan North Bridge Road di kampong Glam Kabupaten Rochor Perencanaan dan dianggap salah satu masjid paling penting di Singapura, di mana ruang doa serta kubah menyoroti fitur bintang masjid.
Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1824 - 1826 di samping istana Sultan Hussain, manejemen masjid dipegang langsung oleh cucu Sultan, Alauddin Shah sampai tahun 1879, dan tahun 1900 an awal, Singapura menjadi pusat perdagangan Islam, budaya, dan Seni, sehingga masjid terlihat terlalu kecil karena komunitas yang sedang berkembang.
Mulai tahun 1924 karena masjid mulai mengalami kerusakan, mulailah diadakan beberapa perbaikan oleh seorang arsitek Denis Santry Swan, dan Maclaren, dengan mengadopsi gaya Saracen, yang dilengkapi dengan menara, diselesaikan dalam waktu 4 tahun (tahun 1928).
Masjid Sultan hanya tinggal dasarnya saja, perbaikan hanya dilakukan untuk ruang doa di tahun 1960, kemudian dilengkapi lagi pada tahun 1993, dan pada 14 Maret 1975 ditetapkan sebagai Monumen Nasional, serta sekarang dimiliki oleh Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). (sakti, dari berbagai sumber)