Senin, 21 Desember 2009

toraja


  1. System kekerabatan

Satu kelompok minoritas yang sudah berhasil mendapat perhatian nasional dan internasional adalah suku Toraja di Sulawesi Tengah. Kelebihan kelompok ini, yang mulai terlihat di tahun 80-an, disebabkan terutama dari industri pawisata, dengan daya tarik indahnya alam pedesaan dan prosesi upacara kematian spektakuler yang melibatkan penyembelihan kerbau secara besar-besaran.

Menghuni pegunungan terjal daerah pedalaman Sulawesi yang lembab, suku Toraja menanam padi untuk sekedar hidup dan kopi untuk mendapatkan penghasilan. Secara tradisional, mereka tinggal di desa di puncak bukit yang dikelilingi benteng terdiri dari dua hingga empat puluh rumah indah dengan atap yang luas dan besar, menyerupai tanduk kerbau. Sampai akhir tahun 80an, desa-desa ini secara politis dan ekonomis adalah desa swasembada, sebagian karena adanya perlindungan terhadap perdagangan budak dan sebagian akibat permusuhan antar kelompok yang disertai dengan perburuan kepala manusia.

Toraja mempunyai hubungan yang kuat secara emosional, ekonomi, dan politik antar kelompok mereka yang berbeda-beda. Pertalian yang paling dasar adalah rarabuku, yang bisa diterjemahkan sebagai keluarga. Toraja memandang kelompok ini sebagai hubungan darah dan tulang, yang dimaksud sebagai hubungan di antara orang-tua dan anak atau keluarga inti.

Ketika Toraja membentuk kekerabatan secara bilateral, baik melalui ibu dan bapak, kemungkinan untuk melebarkan konsep rarabuku semakin berkembang ke segala arah. Suatu kelompok lain yang penting dari sistem kekerabatan Toraja dimana mereka berafiliasi adalah tongkongan (rumah leluhur), yang berbeda dengan banua (rumah biasa). Tongkonan adalah unit sosial terdiri atas sekelompok orang yang menganggap mereka berasal dari satu keturunan nenek moyang asli. Struktur fisik tongkongan pada waktu-waktu tertentu diperbarui dengan mengganti atapnya. Ritual ini dihadiri oleh anggota kelompok sosial dan diiringi oleh tarian yang menyerupai ratapan, di mana roh-roh diminta untuk datang. Bentuk afiliasi penting yang ketiga disebut saroan, atau kerja sama kelompok desa. Kelompok-kelompok ini diperkirakan berasal dari kelompok para petani yang berasal dari dusun kecil. Berawal dari kerjasama dalam pekerjaan dan perdagangan, kerjasama saroan berkembang ke dalam aktivitas ritual juga. Pada saat ritual pengorbanan dan pemakaman terjadi, kelompok-kelompok ini saling bertukar daging dan makanan lain.

Keluwesan afiliasi ini adalah mereka bertanggung jawab sepenuhnya pada persiapan dan penampilan rumah mayat untuk pemakaman. Karena ada suatu ketidakjelasan afiliasi (maksudnya, klaim terhadap keturunan tidak hanya berdasarkan hubungan darah tetapi juga atas pengakuan sosial dari masyarakat melalui perbuatan baik di mata publik), karena itu orang Toraja mencoba membuktikan pentingnya hubungan melalui partisipasi dan kontribusi nyata pada upacara pemakaman, yang memungkinkan kesempatan untuk membuktikan bukan hanya ketaatan kepada almarhum orang-tua, tetapi juga usaha untuk mendapatkan bagian dari warisan tanah yang ditinggalkan. Banyaknya tanah yang bisa diwarisi seseorang dari almarhum mungkin tergantung dari jumlah kerbau yang dikorbankan di pemakaman almarhum orang-tua. Kadang-kadang seseorang bahkan menggadaikan tanah mereka untuk bisa mendapatkan kerbau yang bisa dikorbankan di pemakaman agar mereka bisa ikut mendapat bagian warisan tanah almarhum. Karena itulah, persaingan untuk pengadaaan pesta besar sangat tinggi.

  1. Kepercayaan

Dalam kepercayaan asli masyarakat Tana Toraja yang disebut Aluk Todolo, kesadaran bahwa manusia hidup di Bumi ini hanya untuk sementara, begitu kuat. Prinsipnya, selama tidak ada orang yang bisa menahan Matahari terbenam di ufuk barat, kematian pun tak mungkin bisa ditunda.

Sesuai mitos yang hidup di kalangan pemeluk kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang telah meninggal dunia pada akhirnya akan menuju ke suatu tempat yang disebut puyo; dunia arwah, tempat berkumpulnya semua roh. Letaknya di bagian selatan tempat tinggal manusia. Hanya saja tidak setiap arwah atau roh orang yang meninggal itu dengan sendirinya bisa langsung masuk ke puyo. Untuk sampai ke sana perlu didahului upacara penguburan sesuai status sosial semasa ia hidup. Jika tidak diupacarakan atau upacara yang dilangsungkan tidak sempurna sesuai aluk (baca: ajaran dan tata cara peribadatan), yang bersangkutan tidak dapat mencapai puyo. Jiwanya akan tersesat.

"Agar jiwa orang yang ’bepergian’ itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara yang dilakukan harus sesuai aluk dan mengingat pamali. Ini yang disebut sangka’ atau darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa dikatakan salah aluk (tomma’ liong-liong), jiwa orang yang ’bepergian’ itu akan tersendat menuju siruga (surga)," kata Tato’ Denna’, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne’ Sando.

Selama orang yang meninggal dunia itu belum diupacarakan, ia akan menjadi arwah dalam wujud setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal dunia ini mereka sebut tomebali puang. Sambil menunggu korban persembahan untuknya dari keluarga dan kerabatnya lewat upacara pemakaman, arwah tadi dipercaya tetap akan memperhatikan dari dekat kehidupan keturunannya.

Oleh karena itu, upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan dengan kematian sedapat mungkin harus dijalankan sesuai ketentuan. Sebelum menetapkan kapan dan di mana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul semua, hewan korban pun harus disiapkan sesuai ketentuan. Pelaksanaannya pun harus dilangsungkan sebaik mungkin agar kegiatan tersebut dapat diterima sebagai upacara persembahan bagi tomebali puang mereka agar bisa mencapai puyo alias surga

Jika ada bagian-bagian yang dilanggar, katakanlah bila yang meninggal dunia itu dari kaum bangsawan namun diupacarakan tidak sesuai dengan tingkatannya, yang bersangkutan dipercaya tidak akan sampai ke puyo. Rohnya akan tersesat. Sementara bagi yang diupacarakan sesuai aluk dan berhasil mencapai puyo, dikatakan pula bahwa keberadaannya di sana juga sangat ditentukan oleh kualitas upacara pemakamannya. Dengan kata lain, semakin sempurna upacara pemakaman seseorang, maka semakin sempurnalah hidupnya di dunia keabadian yang mereka sebut puyo tadi.

Kepercayaan pada Aluk Todolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu padangan terhadap kosmos dan kesetiaan pada leluhur. Masing-masing memiliki fungsi dan pengaturannya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya, sebutlah seperti dalam hal "mengurus dan merawat" arwah para leluhur, bencana pun tak dapat dihindari.

Berbagai bentuk tradisi yang dilakukan secara turun-temurun oleh para penganut kepercayaan Aluk Todolo-termasuk ritus upacara kematian adat Tana Toraja yang sangat dikenal luas itu-kini pun masih bisa disaksikan. Meski terjadi perubahan di sana-sini, kebiasaan itu kini tak hanya dijalankan oleh para pemeluk Aluk Todolo, masyarakat Tana Toraja yang sudah beragama Kristen dan Katolik pun umumnya masih melaksanakannya. Bahkan, dalam tradisi penyimpanan mayat dan upacara kematian, terjadi semacam "penambahan" dari yang semula lebih sederhana menjadi kompleks dan terkadang berlebihan.

  1. Pola kampung tradisional

Dalam sistem kepercayaan asli Aluk Todolo (agama leluhur), ritus orang Toraja dikelompokkan dalam dua jenis, yakni RAMBU TUKA dan RAMBU SOLO.
Salah satu keunikan Tana Toraja adalah kepercayaan leluhur, yang disebut " aluk todolo ". Penganut kepercayaan ini percaya bahwa kehidupan di Surga tidak terpisahkan dengan ritual "aluk" yang terbagi atas dua yaitu : ritual barat, " aluk rampe matampu ", yang sampai sekarang dimanifestasikan dalam upacara Rambu Solo' (untuk kematian) dan ritual timur, " aluk rampe matallo ", yang sampai sekarang dimanifestasikan dalam upacara Rambu Tuka' ( untuk pengucapan syukur/kegembiraan). Para wisatawan dapat menikmati manifestasi dari kepercayaan ini dalam bentuk upacara-upacara yang disebutkan di atas. Meski demikian, dalam upacara-upacara tersebut sudah lebih menonjolkan kepercayaan atau agama yang dianut saat ini, seperti Kristen dan Islam. Upacara-upacara ini dapat dilihat hampir setiap hari di mana saja di Tana Toraja.

Toraja mempunyai dua macam ritual utama. Yang pertama disebut ritual timur -- dikenal sebagai upacara matahari terbit dan asap naik – ditujukan untuk kesuburan tanah dan kemakmuran. Acara panen padi adalah bagian dari ritual barat atau dikenal sebagai upacara matahari terbenam, termasuk didalamnya upacara pemakaman. Keduanya melibatkan binatang korban seperti kerbau, babi, maupun ayam sebagai persembahan kepada nenek moyang, serta distribusi daging yang sangat rumit untuk apa saja yang hidup. Melalui distribusi daging, kerjasama yang melibatkan hutang budi dan kewajiban diturunkan dari generasi ke generasi.

Dengan ledakan industri minyak di tahun 60an dan 70an, terjadi migrasi besar-besaran di antara pemuda-pemuda dari dataran tinggi Sulawesi yang mencari pekerjaan di Kalimantan timur laut. Selama periode ini, banyak dari kaum muda ini menjadi pemeluk Kristen. Tetapi ketika mereka kembali ke desa mereka sebagai laki-laki kaya, mereka ingin memamerkan status sosial mereka dalam bentuk upacara pemakaman, menyebabkan apa disebut seorang Antropology Toby Alice Volkman sebagai "inflasi ritual ”. Pameran-pameran status ini membangkitkan perdebatan seru tentang keaslian ritual tersebut, apa yang kemudian disebut sebagai ritual orang kaya baru. Sementara pada periode bersamaan, pemerintah Indonesia sedang memajukan kebijakan yang menganjurkan perkembangan ekonomi di sektor non-minyak. Sebagian kebijakan ini memerlukan perkembangan di sektor pawisata, dengan adanya liputan-liputan oleh media Amerika, menyebabkan gelombang orang asing datang berbondong-bondong untuk memahami ritual pembantaian dan penyembelihan kerbau di Toraja. Jumlah mereka meningkat di awal tahun 90-an. Atas keberhasilan para pejabat tinggi Toraja di mata pemerintah pusat tersebut, maka acara ritual besar mereka mendapatkan status resmi sebagai cabang dari Hindu Bali.

  1. Letak dan orientasi

Rumah berorientasi sepanjang poin kardinal, di sebelah utara yang paling suci arah. Sebuah rumah harus selalu menghadap ke utara, karena arah puang matua, dewa tertinggi Aluk to dolo agama. Bagian belakang rumah atap pelana wajah selatan, arah puya, tanah jiwa-jiwa setelah kematian. Façade utara rumah disebut banua lindo, atau "wajah" dari rumah atau juga ulu 'uai atau "kepala sungai". Ujung selatan rumah disebut pollo banua atau polo uai yang berarti "posterior" dari rumah atau ekor dari sungai. Memang, sa'dan besar driver setelah mana Toraja sa'dan nama diri mereka sendiri apakah sebenarnya aliran utara ke selatan. Rumah yang dibangun dekat satu sama lain, tanpa ada perbedaan yang jelas yang menandai batas-batas pribadi atau ruang pribadi.

Ruang di dalam rumah Toraja diletakkan dalam bentuk yang panjang koridor sempit yang membentang dari pintu utama di ujung utara ke belakang kamar tidur di bagian selatan. Beberapa jendela menyediakan akses terbatas sinar matahari alam, dan ruang hidup yang mengejutkan terbatas. Meskipun beberapa rumah memiliki pintu interior yang bisa memisahkan masing-masing dari tiga kamar, mereka umumnya dibiarkan terbuka agar tidak menghambat jalur langsung visi dari satu ujung rumah ke ujung lain. Dalam beberapa kasus, potongan-potongan kain tipis yang menutup telepon di ambang dari kamar, yang tujuannya, tampaknya, adalah sebagai sinyal lebih untuk titik-titik transisi dari satu ruang ke yang lain karena mereka minimal untuk menjamin privasi. Teori ini didukung oleh kasus-kasus di mana pintu atau tirai tidak ada, namun sedikit mengangkat salib-balok pada titik transisi antara dua kamar adalah jelas.

  1. Pengaruh pada arsitektur tradisional

· Pentingnya atap

Seluruh Indonesia, paling aksentuasi dan elaborasi ditempatkan di atap, yang pervasively dipahami sebagai yang paling suci bagian dari rumah dan dengan demikian adalah yang paling megah. Melengkung besar, melengkung dan memuncak atap rumah-rumah minagkabau dikenal di seluruh dunia sebagai arsitektur feat, sebagaimana atap dari orang batak Sumatra. Yang serupa dalam ands terbalik mereka kepada orang-orang dari Toraja. Bahkan rumah-rumah selatan Nias, salah satu pulau terpencil lebih barat Indonesia, menunjukkan kegemaran bentuk atap rumit. Diperpanjang yang sama, keluar atap miring ditemukan sejauh guinea Mikronesia dan baru. Dalam Delta adalah Purari New Guinea, ravi o klub pria rumah berbagi gaya ini fitur, seperti daerah Sungai Sepic rumah-rumah pertemuan dan beberapa marga Pulau Trobriand rumah. Dikenal paling awal representasi dari gaya arsitektur serupa ditemukan pada usia perunggu Dongson drum, dari budaya kuno Dongson di Vietnam saat ini. Bahwa struktur dengan atap pelana yang ditemukan di Mikronesia Oseania dan dapat memberikan bukti tercapainya budaya anak dong sejauh Mikronesia dan New Guinea. Bukti lain yang mendukung kedatangan budaya Dongson di New Guinea adalah skeuomorph mantanku, mantanku perunggu imitasi dipahat di batu, yang ditemukan di New Guinea oleh Karl Heider.

Beberapa Toraja mengatakan bahwa atap rumah mereka dibentuk untuk mewakili tanduk kerbau - hewan yang paling berharga di Toraja melihat dan ritual. Eksterior hiasan seperti ukiran kepala kerbau, telinga dan kuku cetakan yang biasa terlihat menghiasi rumah Peringkat tinggi Toraja. Ekor kerbau digunakan sebagai pegangan pintu, dan kayu "KABONGO" atau tokoh-tokoh kepala kerbau yang melekat pada bagian depan rumah terkemuka. Piala kerbau ditampilkan pada pos luar yang mendukung diperluas eave adalah lambang kekayaan dan "kemurahan hati" - masing-masing trofi adalah kenang-kenangan untuk pesta yang diberikan masa lalu - dan coofins sering dibangun dalam bentuk prahu bugis atau bots yang beberapa orang percaya membawa Toraja pertama ke sulawesi dari Burma, Cina, dan Melanesi. Yang lain percaya bahwa ujung upsweeping rumah adalah bukti bahwa Toraja turun dari langit. Toraja pertama dilaporkan meluncur turun satu ujung keluar - atap membentang berakhir ketika ia pertama kali datang ke bumi, dan Toraja yang sama percaya bahwa suatu hari theywill slide ke atas pihak lain kembali ke surga, sehingga menyelesaikan lingkaran kehidupan.

Secara tradisional, atap rumah ditutupi dengan jerami, tapi hari ini, sebagian besar seng menggantikan serat alami. Dalam kasus Toraja, Minangkabau, dan batak toba, penggunaan besi dan seng telah memungkinkan untuk memperluas ke atas bahkan lebih dramatis ujung rumah. Kemiringan rendah tradisional yang ditemukan di rumah-rumah yang lebih tua telah digantikan oleh upsweep di atap begitu akut sehingga tidak lagi atap rumah melindungi dari hujan seperti dulu. Di lahan lainnya, semakin perlu untuk menegaskan kembali rasa identitas Toraja tampaknya berkorelasi dengan makin meningkatnya melompat-lompat dari atap yang lebih dan lebih hati-hati dan ditandai mode. Berbagai aspek identitas Toraja merupakan thet akan dipertimbangkan dalam bagian akhir dari makalah dalam upaya untuk memahami bagaimana identitas Toraja berkembang dalam kaitannya dengan perubahan arsitektur dan budaya.

· Variasi dalam bentuk rumah

Perbedaan status dan kekayaan dari penghuni tercermin dalam rumah tinggi, dalam jumlah dan gaya dan dalam jumlah posting yang di atasnya dibangun lumbung, biasanya bervariasi antara empat, enam, dan lebih jarang delapan. Tidak semua leluhur Toraja tinggal di rumah-rumah besar yang sama, walaupun semua klaim jejak afiliasi ke satu. Awalnya, Toraja dibagi menjadi garis-garis keturunan Anda: yang "saham emas" kasta kenal sebagai tana bulaan, para "besi pancang" atau tana Bassi, si "kelapa saham" kasta, dan akhirnya karurung tana tana kuakua atau "rumput saham" garis keturunan yang merupakan kasta budak tradisional. Kata tana menunjukkan posting yang menandai batas, simbolis mungkin dari posting yang digunakan dalam pembangunan sebuah tempat tinggal kasta tertentu. Toraja dari kasta yang lebih rendah biasanya tinggal di rumah-rumah yang disebut banua Chat Rooms, kecil satu atau dua kamar tempat tinggal yang didukung oleh empat posting dan tanpa ukiran. Lain tinggal di rumah-rumah yang sedikit lebih besar yang disebut banua tamben dicirikan oleh rumah blog basis. Masih Toraja lain dari kasta higger tinggal di banua galompin. Rumah dalam bentuk tongkonan, tetapi yang dibedakan melalui kurangnya dekorasi. rumah dan upacara tradisional di Toraja

· Energi vital dalam rumah

Rumah di Toraja dianggap sebagai entitas yang hidup di desa, dijiwai dengan energi vital yang sama, anima atau napas bahwa semua Toraja berbagi. Konsep sumange adalah lazim di seluruh banyak masyarakat Indonesia dan tradisional budaya animisme. The atoni tahu sebagai smanaf, yang sakuddei Siberut sebagai simagere, yang malay sebagai semangat, dan savunese hemanga. Periodik rekonstruksi rumah Toraja mencegah "kematian" dengan memastikan konstan sumber energi baru, dan juga dengan mengabadikan rasa identitas dan akar dirasakan oleh penduduk di rumah tertentu. Pemeliharaan rumah terus-menerus memastikan kehadiran dan status bagi penghuni dan nenek moyang mereka, yang diyakini sangat hidup dalam bentuk roh.

Lumbung gandum atau alang yang membentuk setengah lainnya dari desa Toraja berdiri di seberang rumah, menghadap mereka, di sisi kanan desa. Sebidang tanah yang terjepit di antara gudang dan rumah-rumah yang disebut sebagai ulu ba'ba atau "kepala pusat", dan merupakan tanah komunal di mana tugas sehari-hari dan beberapa kegiatan ritual berlangsung, dan di mana anak-anak bermain. Pola serupa pengaturan desa ditemukan di masyarakat Indonesia lainnya yang jauh dari Toraja, seperti di nias dan Sumatera Utara (angka 12 to14). Bahkan ruang di dalam banyak bahasa indonesia rumah seperti rumah Minangkabau dan toba menyerupai dalam penampilan jika tidak menggunakan tata ruang dari desa Toraja. Pentingnya sebuah tempat pusat bersama anggota rumah pada siang hari berinteraksi diwakili oleh sebuah lorong panjang menjalankan rumah panjang, membagi ruang menjadi dua bagian. Hal ini tampaknya tata letak desa prototipikal Bahasa Indonesia terdiri dari dua bagian dan sebuah kawasan pusat telah menjelang mempengaruhi desain arsitektur yang lebih formal seperti Jakarta sukarno hatta bandara internasional.

Dalam persiapan untuk membangun rumah baru atau desa, wilayah desa dibersihkan dari semua pohon dan tanaman, walaupun vegetasi yang rapat mengelilingi desa, sehingga memberikan perlindungan tambahan dan perlindungan dan rasa tertentu privasi dari intrudes. Tidak jarang ketika berjalan melalui hutan tersandung pada sebuah desa yang sampai saat itu tersembunyi dari pandangan. Kadang-kadang, Toraja merujuk ke daerah di luar desa sebagai "padang gurun" atau tempat dari gangguan dan bahaya. Sifat yang kacau dari luar desa tajam kontras dengan penekanan pada pemeliharaan ketertiban di dalam desa.

· Arsitektur

Kerbau imageWater tongkonan yang membentuk dasar kekayaan dalam masyarakat Toraja. Tanah, kekayaan dan perceraian pengantin pembayaran dilunasi dalam hal kerbau. Dalam semua upacara utama, kerbau yang dikorbankan dan ditawarkan kepada para leluhur. Rumah upacara pemakaman dan berkat memainkan peran penting dalam masyarakat Toraja malam itu mereka disebut Kristen masih menjalankan bentuk muram upacara animisme.

Nama untuk tempat tinggal bangsawan Toraja adalah tongkonan, sebuah kata yang berasal dari kata kerja Bahasa Indonesia "duduk" atau tongkon. Pengaturan tempat duduk merupakan konsep penting dalam banyak budaya asian timur selatan, terlihat perbedaan-perbedaan hierarkis tanda pangkat. Kata umum untuk rumah di Toraja adalah banua, yang artinya, tergantung pada konteks, dapat datang ke rumah menandakan baik, alam semesta, desa, atau surga, lebih menekankan pentingnya gagasan rumah sebagai mikrokosmos.

Rumah berorientasi sepanjang poin kardinal, di sebelah utara yang paling suci arah. Sebuah rumah harus selalu menghadap ke utara, karena arah puang matua, dewa tertinggi Aluk to dolo agama. Bagian belakang rumah atap pelana wajah selatan, arah puya, tanah jiwa-jiwa setelah kematian. Façade utara rumah disebut banua lindo, atau "wajah" dari rumah atau juga ulu 'uai atau "kepala sungai". Ujung selatan rumah disebut pollo banua atau polo uai yang berarti "posterior" dari rumah atau ekor dari sungai. Memang, sa'dan besar driver setelah mana Toraja sa'dan nama diri mereka sendiri apakah sebenarnya aliran utara ke selatan. Rumah yang dibangun dekat satu sama lain, tanpa ada perbedaan yang jelas yang menandai batas-batas pribadi atau ruang pribadi.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, arsitektur rumah Toraja dirancang untuk mewakili mikrokosmos, seperti halnya mayoritas tumpukan rumah-rumah yang dibangun di Indonesia. Selain untuk memenuhi tujuan-tujuan simbolis, tumpukan rumah-rumah menawarkan banyak keuntungan praktis dalam panas tropis, seperti ventilasi dan suhu dingin di dalam rumah. Rumah-rumah Toraja simbolis dibagi menjadi tiga tingkat sesuai dengan kosmologi Austronesia tradisional yang membagi alam semesta ke dalam bawah tanah (diwakili oleh bagian bawah rumah), bumi (diwakili oleh platform tempat tinggal manusia), dan dunia atas, yang dikenal di Indonesia sebagai alam Ghaib (diwakili oleh ruang atap, di mana pusaka disimpan). Dengan cara ini, rumah-rumah menetapkan kaitan antara alam roh, dunia manusia dan dunia bawah.

Di wilayah tempat tinggal manusia rumah, antara roh tempat tinggal dan dunia bawah tanah, panjang dan panjang ruang yang relatif sempit hampir selalu dibagi menjadi tiga bagian melintang: ini adalah ruang tengah atau Sali tempat perapian terletak di timur setengah ruangan; di tangga ', atau kamar tidur sebelah utara anak-anak, dan Sumbung, atau orang tua' kamar tidur di ujung selatan. Para Toraja tidak tidur dengan kepala mereka menunjuk barat atau selatan, karena ini adalah petunjuk yang berkaitan dengan kematian dan setelah kehidupan.

Ruang di dalam rumah Toraja diletakkan dalam bentuk yang panjang koridor sempit yang membentang dari pintu utama di ujung utara ke belakang kamar tidur di bagian selatan. Beberapa jendela menyediakan akses terbatas sinar matahari alam, dan ruang hidup yang mengejutkan terbatas. Meskipun beberapa rumah memiliki pintu interior yang bisa memisahkan masing-masing dari tiga kamar, mereka umumnya dibiarkan terbuka agar tidak menghambat jalur langsung visi dari satu ujung rumah ke ujung lain. Dalam beberapa kasus, potongan-potongan kain tipis yang menutup telepon di ambang dari kamar, yang tujuannya, tampaknya, adalah sebagai sinyal lebih untuk titik-titik transisi dari satu ruang ke yang lain karena mereka minimal untuk menjamin privasi. Teori ini didukung oleh kasus-kasus di mana pintu atau tirai tidak ada, namun sedikit mengangkat salib-balok pada titik transisi antara dua kamar adalah jelas.
Untuk menunjukkan transisi dari tingkat ke dunia roh di atap, tanda silang-berkas yang disebut pata layu atau "kucing jembatan" menjalankan rumah panjang dari utara ke selatan yang memisahkan dua bidang. Dalam mitologi Toraja, kucing memainkan peran sentral: kucing adalah penjaga jembatan yang menghubungkan dunia tengah (manusia domain) ke ke dunia (alam roh). Kucing memungkinkan masuk ke Toraja yang baik, sedangkan pencuri yang dikejar hingga ke tingkat terendah di dunia, dunia binatang, untuk berkubang dalam kotoran kerbau.

Di bagian atas sebagian besar bagian depan dan belakang pelana terletak dua segitiga kecil yang dikenal sebagai semangat Lalang deata atau jendela. Ini memberikan kepada kedua pintu masuk di sebelah utara dan keluar di selatan untuk roh-roh yang tinggal di atap. Roh-roh leluhur rumah yang tinggal di atap dapat berbahaya seperti mereka murah hati jika tidak dipuaskan melalui upacara dan persembahan. Untuk alasan ini, rumah yang harus terus dibangun kembali dan dikembalikan pada saat upacara seperti rumah berkat, yang dilakukan dalam rangka untuk menenangkan roh-roh dan menjaga mereka dengan baik dan bersemangat. Tidak melakukan upacara ini dapat mengakibatkan sebuah "lemah" atau "sakit" rumah yang diyakini menjadi kekuatan negatif dan berbahaya bagi desa. Jadi kesejahteraan rumah diyakini secara langsung berhubungan dengan kesejahteraan desa.

  1. Konsep ruang dalam arsitektur tradisional

Rumah Adat Suku Toraja mengalami perkembangan terus sampai kepada rumah yang dikenal sekarang ini. Perkembangan itu meliputi penggunaan ruangan, pemakaian bahan, bentuk, sampai cara membangun. Sampai pada keadaannya yang sekarang rumah adat suku Toraja berhenti dalam proses perkembangan. Sekalipun begitu, sejak asalnya rumah adat ini sudah punya ciri yang khas. Ciri ini terjadi karena pengaruh lingkungan hidup dan adat istiadat suku Toraja sendiri. Seperti halnya rumah adat suku-suku lain di Indonesia yang umumnya dibedakan kare­na bentuk atapnya, rumah adat Toraja inipun mempunyai bentuk atap yang khas. Memang mirip dengan rumah adat suku Batak, tetapi meskipun begitu rumah adat suku

Toraja tetap memiliki ciri-ciri tersendiri.

1. Pada mulanya rumah yang didirikan masih berupa senacam pondok yang diberi nama Lantang Tolumio. Ini masih berupa atap yang disangga dangan dua tiang + dinding tebing

2. Bentuk kedua dinamakan Pandoko Dena. Bentuk ini biasa disebut pondok pipit karena letak-nya yang diatas pohon. Pada prinsipnya rumah ini dibuat atas 4 pohon yang berdekatan dan berfungsi sebagai tiang. Hal pemindahan tempat ini mungkin disebabkan adanya gangguan binatang buas.

3. Perkembangan ketiga ialah ditandai dengan mulainya pemakaian tiang buatan. Bentuk ini memakai 2 tiang yang berupa pohon hidup dan 1 tiang buatan. Mungkin ini disebabkan oleh sukarnya mencari 4 buah pohon yang berdekatan. Bentuk ini disebut Re'neba Longtongapa .

4. Berikutnya adalah rumah panggung yang seluruhnya mempergunakan tiang buatan. Dibawahnya sering digunakan untuk menyimpan padi (paliku), ini bentuk pertama terjadinya lumbung.

5. Perkembangan ke~5 masih berupa rumah pangqung sederhana tetapi dengan tiang yang lain. Untuk keamanan hewan yang dikandangkan dikolong rumah itu. tiang-tiang dibuat sedemikian ru pa sehingga cukup aman. Biasanya tiang itu tidak dipasang dalam posisi vertikal tetapi merupakan susunan batang yang disusun secara horisontal.

6. Lama sesudah itu terjadi perobahan yang agak banyak. Perubahan itu sudah meliputi atap, fungsi ruang dan bahan. Dalam periode ini tiang-tiang kembali dipasang vertikal tetapi dengan jumlah yang tertentu. Atap mulai memakai bambu dan bentuknya mulai berexpansi ke depan (menjorok). Tetapi garis teratas dari atap masih datar. Dinding yang dibuat dari papan mulai diukir begitu juga tiang penyangga. Bentuk ini dikenal dengan nama Banua Mellao Langi.

7. Berikutnya adalah rumah adat yang dinamakan Banua Bilolong Tedon. Perkembangan ini terdapat pada Lantai yang mengalami perobahan sesuai fungsinya.

8. Pada periode ini hanya terjadi perkembangan pada lantai dan tangga yang berada di bagian depan.

9. Pada periode ini letak tangga pindah ke bawah serta perubahan permainan lantai

10. Banua Diposi merupakan nama yang dikenal untuk perkembangan kesembilan ini. Perubahan ini lebih untuk menyempurnakan fungsi lantai (ruang).

11. Berikutnya adalah perobahan lantai yang menjadi datar dan ruang hanya dibagi dua.

Setelah periode ini perkembangan selanjutnya tidak lagi berdasarkan adat, tetapi lebih banyak karena persoalan kebutuhan akan ruang dan konstruksi. Bagitu juga dalam penggunaan materi mulai dipakainya bahan produk mutakhir, seperti seng, sirap, paku, dan sebagainya. Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan yang terakhir merupakan puncak perkembangan dari rumah adat Toraja.

Contoh:

1. Gambaran Umum.

Di kampung ini terdapat 3 rumah adat, 2 lurnbung dan 1 rumah tinggal biasa. Ketiga rumah adat itu yang satu merupakan rumah lama dan ditinggali oleh penghuninya, yang satu dalam rekonstruksi dan yang sebuah lagi dalam taraf pembangunan. Dalam peninjauan ini lebih dikhususkan pada rumah yang dikonstruksi yang menurut keterangan, dibuat kira-kira 100 tahun yang lalu.

2. Tata Letak.

Semua rumah mnghadap ke Utara, karena ada kepercayaan bahwa Utara merupakan lambang kehidupan. Sedang arah Selatan darimana timbul kehidupan (kelahiran) merupakan tujuan kemana setiap insan akan pergi (kenatian). Letak lumbung di karnpung ini tidak dapat tepat di depan rumah, lebih tepatnya agak disamping.

3. Perencanaan.

Direncanakan oleh tukang-tukang dan keluarga yang akan menempati rumah dengan dibantu beberapa tukang ukir. Cara pelaksanaan dengan sistim gotong-royong rakyat setempat.

a. Pembagian ruangan.

Ruangan rumah dibagi atas tiga bagian, dengan urutan dari Utara ke Selatan.
Ruang I : SALI, teimpat duduk, ruang tamu, entrance, dapur, termpat tidur anak,
Ruang II : INAN TENGA (SALI TENGA) , tempat tidur orang tua, ruang makan.
Ruang III: SUMBUNG, tempat tidur orang tua (nenek) dan orang-orang terhormat.

b. Ruangan-ruangan terletak dibagian atas rumah (panggung). Sedang dibagian bawah (kolong) dengan tiang-tiang merupakan kandang kerbau. Kandang babi terbuat terpisah dari rumah adat.

c. Fasilitas kamar mandi dan WC tidak ada, begitu juga dengan tempat cuci. Untuk keperluan ini penghuni harus pergi ke sungai terdekat.

d. Tangga masuk pada rumah adat ini banyak nengalami perubahan mulai letak di depan di kolong, sampai di samping. Pada rumah adat di desa ini tangganya berada di depan.

4. Struktur.

Struktur rumah terbuat dari kayu, keseluruhan elemennya saling kait mengkait sehingga menjadi kesatuan yang kaku dan berdiri diatas tiang-tiang. Tiang menumpu pada pondasi-yang berupa sebuah batu alam sebagai tumpuan tiang.
Konstruksi bangunan ini adalah tahan gempa & angin dalam arti kata tidak runtuh. Sebab seluruh bagian merupakan satu kesatuan yang diletakkan diatas batu begitu saja.

Untuk bangunan yang ditinjau ini tiangnya 9 buah termasuk Tulak Somba. Selebihnya adalah tiang pembantu yang dihubungkan dengan kasta-kasta ( menggambarkan struktur sosial Tana Toraja) Adapun stratifikasi sosial Tana Toraja yang berhubungan dengan rumah adat ialah :

-Tana Bulaan ( bulaan = emas ) jumlah tiang rumah 29 buah

-Tana Besi Jumlah tiang rumah 27 buah

-Tana Karuru ( Karuru = ijuk ) jumlah tiang rumah 25 buah

-Tana Kua-Kua ( Kua = tebu ) jumlah tiang rumah 23 buah.

5. Konstruksi.

a. materi bangunan.

hampir keseluruhan menggunakan bahan kayu. dimulai dari balok tiang, papan untuk dinding dan lantai. Untuk alas runah (pondasi) digunakan batu.
Jenis kayu yang digunakan tergantung dari persediaan. Jenis itu umumnya kayu Bunga, kayu Buangin (cemara) , kayu Kalapi/ Nangka, Cendana, kayu Beringin.

b. cara penyambungan

Untuk atap menggunakan sistim ikat (dengan rotan) dan jepit. Untuk balok-balokbanyak menggunakan sistim pen.

c. Atap.

Bahan dari bambu yang dibelah dan dirangkai menjadi bidang-bidang. Pengikat menggunakan rotan dan diantara lapisan bambu diberi ijuk. Untuk hubungan dipakai bambu belah-belah.

d. Dinding.

Menggunakan bahan papan yang biasa.nya penyelesaiannya diukir dibagian

luarnya.

e. Tiang.

Dari balok yang raasih berupa pohon yang hanya diperhalus sedikit, lalu ditaruh begitu saja diatas batu.

f. Penyelesaian.

Untuk ukir-ukiran dicat yang dipakai ialah tanah merah + tuak, arang + cuka + air.

g. Lantai.

Dari papan, balok kecil yang dipasang saling bersilangan ditambah anyaman kayu.

h. Cara pembuatan.

Untuk mengukur kedataran (rata) dipakai perkiraan sejajar permukaan air. Untuk mengukur arah tegak dipergunakan pertolongan tali.

6. Kandang babi.

Bangunan sederhana dengan konstruksi bambu.

7. Lumbung.

Konstruksi sama dengan rumah, tapi strukturnya berbeda dan lebih sederhana. Jumlah tiang lebih sedikit dan tidak memakai tulak somba. Tiang biasanya berjumlah 4 atau 6 buah.

  1. Ornamen/Hiasan bangunan.

Ornamen (hiasan bangunan) yang terdapat pada rumah-rumah adat sebagian besar mempunyai arti. Arti ini biasanya berhubungan dengan adat istiadat yang masih diipertahankan. Disamping itu ada pula yang hanya merupakan hiasan saja, misalnya : Sumbang dan Katombe yang merupakan sirip-sirip kayu berukir pada tiap-tiap sudut rumah adat.

Ornamen (hiasan) ini dibagi dalam beberapa macam ornamen, masing-masing ialah :

  1. Ornamen binatang

Kerbau, sebagai binatang yang sering disembelih dalam upacara-upacara, bagian- bagian badannya banyak dipergunakan untuk ornamen. Misalnya tanduk, kepala ( tiruannya). Selain itu motif kerbau juga ada dalam ukiran di dinding papan rumah adat. Kepala kerbau ( tiruan dari kayu ) biasanya dipasang pada ujung-ujung balok lantai bagian depan (pata sere).
Tanduk kerbau disusun pada tiang yang utama (tulak- sonba) artinya menyatakan jumlah generasi yang pernah tinggal di rumah adat itu.

Ayam jantan, sebagai lambang Kasta Tana’ Bulaan (kasatria) diukirkan pada bagian depan/belakang rumah, juga dipintu-pintu.

Babi, sebagai lambang binatang sajian.

  1. Ornamen Senjata.

Keris dan pedang, diukirkan sebagai lambang Kasta Tana Bulaan (kasatria).

  1. Ornamen Tumbuh-tumbuhan.

Daun Sirih, bunga, diukirkan pada tiang utama tulak somba, rinding (dinding), langit-langit lumbung sebagai ruang tamu, juga di pintu-pintu.

Ornamen ukiran kayunya menggunakan kayu URU. Ornamen ini diukir dulu baru dipasang di tempat. Penyelesaian ukiran biasanya dengan zat pewarna yang dibikin dari tanah +tuak atau arang + cuka + air.

Senin, 30 November 2009

atjeh

Desa Aceh biasanya terletak di tengah dibudidayakan daerah di mana rumah-rumah yang tersembunyi di antara pepohonan untuk keteduhan dan kesejukan. Rumah tradisional yang lebih tua dibangun tanpa menggunakan paku. Rumah diikat dengan tali atau pegswhich dibuat terlalu kecil untuk lubang dan disimpan di tempat dengan irisan besar.

Sebuah rumah Aceh berdiri di atas pilar yang dirancang dengan baik untuk iklim. Ini terdiri dari lima divisi (rueung). 16, 20 atau 24 kokoh pilar, biasanya 6-8 kaki tingginya, bangkit tegak lurus dari lantai, menyediakan ruang untuk sirkulasi udara dan bagi orang-orang untuk bergerak dengan nyaman.

selanjutnya

Rabu, 25 November 2009


Seorang individu atau komunitas kepercayaan dan alam sekitar mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arsitektur bangunan atau rumah yang mereka buat. ini dapat dilihat dari arsitektur dari "Rumoh Aceh", di propinsi Daerah Istimewa Aceh, Indonesia. Rumoh Aceh, adalah rumah panggung dengan tiang tinggi selama sekitar 2,5 - 3 meter, terdiri dari tiga atau lima ruang, dengan satu ruang utama yang juga disebut dengan "rambat". Rumoh dengan tiga ruang memiliki enam belas tiang, sedangkan Rumoh dengan lima ruang memiliki dua puluh empat tiang. Sebuah modifikasi tiga sampai lima ruang atau sebaliknya, dapat dilakukan dengan mudah, hanya menambah atau menghapus beberapa bagian dalam kanan atau kiri dari Rumoh. Bagian ini dapat disebut dengan "sramoe likot" atau kembali serambi dan "sramoe bertangga" atau tangga beranda, masuk ke Rumoh yang selalu berada di timur.

Pintu utama Rumoh Aceh selalu memiliki ketinggian lebih rendah dari orang dewasa. biasanya, ketinggian pintu ini hanya 120-150 cm, sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk. Tetapi ketika kami sudah di dalam, kami akan merasa ruang yang sangat luas seperti dalam tidak ada perabotan. Semua orang yang duduk di "ngom" tikar (yang terbuat dari "ilalang" jenis yang tumbuh di rawa) yang dilapisi dengan tikar pandan.
Rumoh Aceh tidak hanya sebuah tempat tinggal biasa, tetapi juga merupakan ekspresi dari kepercayaan dalam Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Oleh karena itu, melalui Rumoh Aceh, kita dapat melihat budaya, cara hidup dan titik yang dipercaya oleh rakyat Aceh. Rumoh Aceh yang berbentuk panggung, tiang-tiang yang terbuat dari kayu khusus, dinding terbuat dari papan dan atap yang terbuat dari rumbia adalah adaptasi masyarakat Aceh terhadap lingkungannya. Pemanfaatan alam juga dapat dilihat ketika mereka ingin menggabungkan bagian-bagian Rumoh, Mereka tidak menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali rotan. Walaupun, hanya terbuat dari kayu, dengan atap dari daun rumbia tapi Rumoh Aceh bisa berdiri diam selama sekitar 200 tahun.

Pengaruh kepercayaan masyarakat aceh terhadap arsitektur bangunan rumah dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu yang selalu memanjang dari timur ke barat, yang bagian depan selalu menghadap ke timur dan belakang yang suci selalu menghadap ke barat, arah barat ini mencerminkan upaya orang-orang aceh untuk membangun garis imajiner dengan Kakbah yang terletak di Mekkah. Selain itu, pengaruh iman juga dapat dilihat dari penggunaan tiang penyangga yang bahkan selalu dalam jumlah tetapi jumlah kamar selalu aneh.
Keberadaan Rumoh Aceh juga untuk menunjukkan status sosial pemiliknya. Semakin mereka memiliki hiasan pada Rumoh mereka, semakin mereka kaya. Untuk keluarga yang tidak punya banyak kekayaan, maka cukup kurang dari hiasan atau bahkan tidak memakai hiasan.

rumah adat modern


rumah adat kuno