Selasa, 10 April 2012

Lawang Sewu






Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT. Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV / Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero.



SEJARAH BANGUNAN LAWANG SEWU
Skema rancangan Lawang Sewu tahun 1901


Gedung Lawang Sewu di tahun 1920-an

Lawang Sewu adalah salah satu bangunan bersejarah yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda, pada 27 Februari 1904. Awalnya bangunan tersebut didirikan untuk digunakan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta NIS. Sebelumnya kegiatan administrasi perkantoran NIS dilakukan di Stasiun Samarang NIS. Namun pertumbuhan jaringan perkeretaapian yang cukup pesat, dengan sendirinya membutuhkan penambahan jumlah personel teknis dan bagian administrasi yang tidak sedikit seiring dengan meningkatnya aktivitas perkantoran. Salah satu akibatnya kantor pengelola di Stasiun Samarang NIS menjadi tidak lagi memadai. NIS pun menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai jalan keluar sementara. Namun hal tersebut dirasa tidak efisien. Belum lagi dengan keberadaan lokasi Stasiun Samarang NIS yang terletak di kawasan rawa-rawa hingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting. Kemudian diputuskan untuk membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal). NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Negeri Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangi di Amsterdam tahun 1903.



LAWANG SEWU, BANGUNAN BERSEJARAH YANG MISTIS


Ada dua hal yang tampak tidak bisa lepas dari lawang sewu, yaitu sejarah mistis. sebagai bangunan tua, yang di buat pada tahun 1903, Lawang Sewu menjadi saksi bisuu beragam peristiwa historis di Semarang. Pernah menjadi kantor Djawatan Kereta Api pada masa Kolonial Belanda, Lawang Sewu juga pernah menjadi penjara oleh tentara penjajahan Jepang. Lawang sewu didesain mengikuti kaidah arsitektur morfologi bangunan sudut yaitu dengan menara kembar model gotik disisi kanan dan kiri pintu gerbang utama. Bangunan gedung memanjang kebelakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Perancang Lawang sewu adalah Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag, dua orang berkebangsaan Belanda. Nama resminya adalah Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij namun lebih populer disebut lawang Sewu karena memiliki pintu dalam jumlah yang sangat banyak.


18 september tahun 1945, terjadi pertempuran hebat antara Angkatan Muda Kereta api Indonesia yang berusaha merebut bangunan ini dari tangan Kempetai dan Kido Butai Jepang. Untuk mengenang jasa - jasa mereka yang gugur dalam pertempuran 5 hari tersebut, di depan Lawang Sewu dibangun sebuah tugu peringantan. Lawang sewu ini terdiri dari sebuah bangunan utama yang membentu huruf U dengan taman terbuka dibagian dalam. dari pintu utama kita langsung disambut sebuah tangga besar menuju lantai 2. Dibagian bordes tangga terpasang sebuah kaca grafir yang menutupi jendela dengan ukiran yang indah. 

Oleh perancangnya, ruang bawah tanah Lawang Sewu sebenarnya disiapkan sebagai penampung air. Itu terlihat dari pipa besar yang malang melintang di dalam. Namun, ruang itu diubah menjadi penjara bawah tanah oleh tentara Jepang untuk menyiksa pejuang pribumi.
Penjara duduk, yang jumlahnya puluhan, adalah ruang berukuran sekitar 3 x 3 meter setinggi 1 meter. Para tawanan dipaksa duduk di dalam kotak itu dalam genangan air. Permukaan ditutup dengan besi. Tawanan harus terus duduk supaya bisa bernafas.
Penjara berdiri adalah kotak berukuran 1×1 meter persegi setinggi skeitar dua meter. satu kotak penjara berdiri diisi oleh 5 orang tawanan supaya tawanan berdesakan hingga tidak bisa duduk. Penjara ini diberi kawat berduri.
Tidak hanya itu. Sebuah ruangan di Lawang Sewu yang terhubung dengan sungai di belakang gedung digunakan sebagai ruang ekskusi bagi para tawanan yang membangkang. Konon, kepala para tawanan dipenggal dan dibuang ke sungai di belakang gedung hingga air sungai berubah merah.
Dengan sejarah “kelam” seperti itu, tidak heran jika Lawang Sewu dipersepsi sebagai tempat angker. Ada berbagai jenis makhluk halus yang menghuni gedung ini. Dua “makhluk” paling populer adalah hantu noni Belanda yang katanya gentayangan di salah satu ruang utama. Sedangkan hantu pejuang pribumi tanpa kepala, konon, kerap berkeliaran di halaman depan.

Rabu, 30 November 2011

Kritik Normatif - Kritik Arsitektur

Kritik normatif adalah mengkritisi sesuatu baik abstrak maupun konkrit sesuai dengan norma,aturan,ketentuan yang ada.

Hakikat kritik normatif adalah

  • Adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip.
  • Dan melalui ini kualitas dan kesuksesan sebuah lingkungan binaan dapat dinilai.
  • Norma bisa jadi berupa standar yang bersifat fisik, tetapi adakalanya juga bersifat kualitatif dan tidak dapat dikuantifikasikan.
  • Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi

4 metode sebagai kritik normatif seperti berikut :

a. Doktrin ( satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur)

b. Sistem ( suatu norma penyusunan elemen-elemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan)

c. Tipe ( suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik)

d. Ukuran ( sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif)

dalam hal ini akan dibahas mengenai metode Tipe. Metode Tipe adalah suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik.

MASJID KUBAH EMAS, DEPOK


Masjid kubah emas atau Masjid Dian Al Mahri yang letaknya di Depok, Jawa Barat, tepatnya di Jalan Meruyung, Kelurahan Limo, Kecamatan Cinere, Depok. Masjid ini mulai di bangun pada tahun 1999, dan di resmikan pada bulan April tahun 2006. Masjid ini merupakan milik pribadi dari Hajjah (Hj) Dian Djurian Maimun Al-Rasyid,seorang pengusaha dari Serang, Banten dan pemilik Islamic Center Yayasan Dian Al-Mahri.
Masjid ini luas bangunannya mencapai 8.000 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 70 hektare. Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.

Bangunan Masjid Kubah Emas,depok menggunakan gaya Arsitektur Byzantium. Arsitektur Byzantium merupakan arsitektur yang berada di zaman Yunani kuno,tepatnya di Konstantinopel.
Konstantinopel merupakan salah satu kota terpenting di dunia, kota ini dikelilingi tembok-tembok besar yang kokoh yang dikenal dengan nama tembok konstantin, yang dibangun pada tahun 330 Masehi oleh Kaisar Constantine I. Konstaninopel memiliki posisi yang sangat penting di mata dunia. Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan Tanduk Emas (golden horn) yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Kota ini merupakan sebuah magnet komersial, kultural, dan diplomatik. Dengan letak strategisnya itu, Konstantinopel mampu mengendalikan rute antara Asia dan Eropa, serta pelayaran dari dari Laut Mediterania ke Laut Hitam. Pentingnya posisi konstantinopel ini digambarkan oleh Napoleon dengan kata-kata “…..kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!”.



Sketsa - Kritik Arsitektur


Kolong Jembatan digunakan sebagai tempat tidur (tempat tinggal) oleh para tunawisma. Ini membahayakan diri mereka sendiri jikalau sewaktu - waktu terjadi pasang di air kali tersebut.

Selasa, 29 November 2011

Fotografi - Kritik Arsitektur

1. Koridor busway yang seharusnya di pakai untuk pengguna Busway dijadikan sebagai tempat Tunawisma mengais rejeki. Sehingga menghambat jalur para pengguna Busway yang melintas.



2. Jembatan penyebrangan di depan Blok Plaza bertambah fungsinya yang awalnya sebagai tempat penyebrangan bagi pejalan kaki, dan di tambah dengan para pedagang yang menjajakan barang dagangannya di sepanjang jembatan penyebrangan tersebut.




3. Salah satu gedung kantor yang terdapat di daerah Blok M mempunya GSB (Garis Sepadan Bangunan) yang kurang sesuai dengan peraturan pemerintah setempat. Juga area drop off dan masuk basement yang kurang nyaman dilalui karena sempitnya area sirkulasi.


Senin, 30 Mei 2011

ARTSCIENCE MUSEUM AT MARINA BAY SANDS




Artscience museum adalah museum karya moshe safdie yang merupakan salah satu development building yang ada di Marina Bay yang dibuka pada tanggal 17 Februari 2011. Ide bentuk desainnya adalah teratai dan merupakan symbol ucapan selamat datang bagi para wisatawan. Ketinggian bangunan mencapai 60m dengan menggunakan struktur lattice dan konstruksi baja. Museum ini ditopang oleh 10 kolom yang diikat pada bagian tangannya oleh keranjang seperti melayang diatas tanah. Museum ArtScience memiliki ruang galeri 21 dengan luas 50.000 kaki persegi (6.000 meter persegi).
Pameran akan mencakup fitur permanen seperti objek menunjukkan prestasi seni dan ilmu pengetahuan selama berabad abad, sepanjang garis Leonardo da VinciFlying Machine, Lentera Kongming, ikan robot berteknologi tinggi dan membuka museum dengan pameran koleksi dari kargo kapal karam Belitung, dinasti Tangharta yang ditemukan dan hati-hati dijaga oleh Tilman Walterfang dari Dasar LautExplorasi NZ Ltd





pameran Museum ArtScience akan fokus pada penyelidikan mengenai bagaimana disiplin individu seni rupa, eksperimen ilmiah,media, teknologi, desain dan arsitektur berhubungan dengan dan memperkaya satu sama lain. Tom Zaller, Direktur Museum ArtScience, mengembangkan program yang menenggelamkan penonton dalam perjalanan kreativitas dan penemuan. Pamerantetap museum, ArtScience: Perjalanan Melalui Kreativitas fitur serangkaian galeri berjudul "Curiosity," "Inspirasi," dan "Ekspresi," masing-masing yang menggunakan artefak perwakilan dan presentasi multimedia untuk mengeksplorasi inovasi dan manifestasi dari proses kreatif - dari Cina kuno gulir dan Leonardo Da VinciMachines Terbang ke model molekuler dari "Buckyball" dan ikan robot berteknologi tinggi.






Desain Museum terdiri dari dua bagian prinsip. Dasar, yang tertanam di bumi dan dikelilingi oleh air Teluk dan kolam lily raksasa, dan struktur bunga seperti yang terbuat dari 10 kelopak, yang dibuat oleh geometri spheroids dari berbagai jari-jariyang tampaknya mengapung diatas dasar kolam yang indah. Kelopak, atau jari karena beberapa merujuk kepada mereka, naik ke langit dengan ketinggian bervariasi, masing-masing dimahkotai oleh skylight yang menarik di siang hari menembus dasar dan menerangi dalam galeri. Bentuk secara keseluruhan telah dibandingkan dengan bunga teratai dan telah dijuluki, "menyambut tangan Singapura," oleh Sheldon Adelson, ketua Las Vegas Sands Corporation yang dikembangkan Marina Bay Sands. Museum ini masuk melalui kaca paviliun yang berdiri bebas. Besar lift dan eskalator menyampaikan masyarakat untuk galeri-galeri bawah dan atas. Secara total, ada tiga tingkat galeri dengan luas total 6.000 meter persegi.
Bentuk atap seperti piring mengumpulkan air hujan dan mengalir melalui suatuoculus, menciptakan air terjun melalui pusat museum yang feed kolam interior.Struktur museum asimetris, dikandung oleh Arup, mencapai ke atas ke langit setinggi60 meter dan didukung oleh struktur kisi baja yang rumit. Perakitan ini didukung olehsepuluh kolom dan terikat di tengahnya oleh pusat-keranjang-seperti diagrid sebuah patung yang menampung kekuatan asimetris yang membentuk bangunan menghasilkan. Hasil dalam resolusi efisien kekuatan struktur bangunan, memberikan kualitas yang tampaknya ringan seperti melayang di atas tanah. Amplop museumterdiri dari dua kali kulit melengkung Diperkuat Serat Polimer [FRP] biasanya digunakan pada skala tertentu dalam pembangunan perahu dan yacht. Sisi vertikalsetiap kelopak yang dilapisi manik-mengecam panel stainless steel. Penggunaan belum pernah terjadi sebelumnya FRP telah memungkinkan-sendi kurang, kulit terus menerus untuk setiap permukaan seperti berlayar mencapai rasa ringan dengan kelopak mereka berkilauan. Seperti di tempat lain di Marina Bay Sands, bangunantujuan dan mencapai tingkat tertinggi keberlanjutan. "

Minggu, 17 April 2011

ADAT ISTIADAT YANG MEMBELENGGU MASYARAKATNYA


UPACARA KEMATIAN ADAT TORAJA

Ketidakpastian akan misteri kehidupan setelah mati, menciptakan kekhawatiran akan nasib si mati di alam baka. Di dataran tinggi Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, upaya untuk menguak misteri itu telah menciptakan sebuah prosesi religius yang begitu rumit, kompleks, dan memakan banyak tenaga serta biaya. Masyarakat Toraja menyebutnya dengan Upacara Rambu Solok.

Ritual itu dikenal sebagai upacara pengantar jenazah seseorang ke penguburan. Meski hanya sebuah ritual kematian, penyelenggaraan upacara itu layaknya sebuah pesta besar. Sebab, puluhan ekor kerbau dan babi mesti dikorbankan dengan melibatkan massa secara kolosal dan membutuhkan dana puluhan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah.

Jika mengikuti tata cara Aluk To Dolo, upacara Rambu Solok sebenarnya adalah upacara yang rumit dan kompleks. Namun, sejak masuknya agama Kristen, Katolik, dan Islam, beberapa bagian prosesi telah dihilangkan. Kini, secara umum, ada empat bagian prosesi yang masih terus dilakukan, yaitu Mapalao, penerimaan tamu, penyembelihan kerbau, dan penguburan.

Upacara Mapalao adalah ritual untuk membawa jenazah ke pusat prosesi, yaitu di rumah adat Tongkonan. Mapalao dilakukan dengan mengarak keranda jenazah dari rumah tinggal menuju Tongkonan keluarga. Di sanalah, jenazah disemayamkan sementara waktu di sebuah Lakean yang terletak di ujung Tongkonan.

Usai upacara Mapalao, keluarga menerima kedatangan para tamu untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhum. Bunyi lesung yang ditabuh sejumlah wanita menjadi pertanda ada tamu yang datang.

Para tamu datang dalam kelompok-kelompok keluarga dengan membawa hewan seperti kerbau dan babi untuk disumbangkan. Setiap kali rombongan tamu tiba, tuan rumah segera membawa mereka ke Lantang dan menyediakan hidangan. Di saat yang sama, alunan kidung kesedihan dari penari Renteng sengaja dilantunkan untuk menggambarkan sejarah hidup almarhum.

Proses yang agak rumit terjadi saat upacara penyembelihan kerbau. Sebab, hewan yang telah diterima keluarga, baik dari sumbangan maupun keluarga sendiri akan dihitung oleh panitia yang terdiri dari keluarga, aparat desa, dan masyarakat adat. Dalam proses ini, sering terjadi negosiasi yang alot.

Terkadang, protes datang karena ketakpuasan soal jumlah kerbau yang harus disembelih. Namun, kesepakatan akhir tetap harus terjadi, tak peduli proses negosiasi berakhir dengan protes. Di depan Tongkonan dan keranda jenazah, satu demi satu tebasan pedang para penjagal mengakhiri ajal sang kerbau.

Setelah semua rangkaian upacara telah dilewati maka saatnya dilakukan penguburan. Masyarakat Toraja mempunyai tradisi unik dalam mengubur orang yang telah mati. Penguburan tak dilakukan di tanah, tapi di goa-goa alam yang terletak di tebing-tebing pegunungan. Bahkan, mereka meyakini bahwa semakin menantang proses penguburan maka semakin tinggi pula derajat keluarga yang meninggal.

Akhirnya, sebuah prosesi penguburan yang sangat berbahaya dilakukan. Mulai dari kelincahan, keberanian, serta dorongan keyakinan spiritual. Terkadang, nyawa harus dipertaruhkan dalam proses penguburan ini. Semuanya dilakukan dengan penuh keyakinan bahwa yang diperbuat akan membahagiakan leluhur yang telah meninggal.
Bagaimana pun, rambu solok telah menjadi fenomena dalam kehidupan masyarakat, bahkan tidak jarang melahirkan sikap pro dan kontra. Pada satu sisi budaya ini dianggap positif. Bukan hanya dalam rangka melestarikan adat istiadat dan tradisi, tapi juga berdampak pada kehidupan keseharian masyarakat, terutama dengan kebersamaan dan kerjasama warga.

Belum lagi jika dikaitkan dengan pengembangan sektor pariwisata, karena tradisi ini dianggap sebagai salah satu sektor unggulan dan sangat potensial mendatangkan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Di sisi lain, kritik terhadap pelaksanaan pesta ini juga mulai berkembang. Penggunaan dana yang terkadang mencapai angka puluhan miliar dinilai oleh sebagian kalangan telah di ambang batas kewajaran, dan menciptakan budaya boros bagi masyarakat. Untuk sebagian warga, biaya pelaksanaan pesta rambu solok akan terasa sangat besar dan menjadi beban bagi mereka.

Meski demikian, mereka tetap harus melaksanakannya, dalam rangka menjaga gengsi dan popularitas. Belum lagi kewajiban untuk membayar utang bagi mereka yang telah membantunya saat pelaksanaan pesta.

Pro-kontra terhadap pelaksanaan ritual ini tentunya harus bisa disikapi secara bijak. Sebagai sebuah tradisi yang telah menjadi aset daerah tentunya kita tidak ingin budaya ini hilang. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari segenap elemen dan pelaku pembangunan untuk menemukan formula efektif dan menguntungkan.

Di tingkat masyarakat perlu terbangun kesadaran bahwa pelaksanaan pesta yang berlebihan akan lebih banyak berimplikasi negatif dibandingkan positifnya.

KESIMPULAN

Apabila masyarakat yang tidak atau kurang mampu, maka upacara adat kematian ini tidak dijalankan, dan seiringan berjalannya waktu Ada juga masyarakat yang tidak setuju terkait kewajiban pelaksanaan upacara ini, karena kurang masuk akal dan tidak jelas tujuannya.

Berkembang pula pemikiran yang menyatakan upacara ini tidak penting untuk dilestarikan. Orang yang mati harus segera dikuburkan, tidak menunggu berhari-hari. Hal ini dapat merusak kesehatan meskipun jenazah telah disuntik formalin untuk memperlambat terjadinya pembusukan mayat. Maka seharusnya adat tidak harus dijadikan beban.